Follow detikFinance
Senin 07 Nov 2016, 09:31 WIB

Mega Capital: IHSG Bergerak Fluktuatif

Mega Capital - detikFinance
Mega Capital: IHSG Bergerak Fluktuatif Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Sempat dibuka melemah di awal perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup menguat berada di level 5.362.

IHSG berpeluang untuk berlanjut menguat dan bergerak menuju resistance level 5.390. White closing marubozu pada candle menunjukkan penguasaan buyers hingga akhir sesi, namun jika indeks berbalik melemah maka berpotensi menguji support level di 5.330. Hari ini diperkirakan indeks kembali fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas.

Penguatan indeks didorong oleh sektor pertambangan, industri dasar, dan konsumer. Indeks LQ45 yang menjadi top gainers adalah WIKA, PTBA, dan AKRA. Sementara top losers-nya adalah SSMS, MPPA, dan PTPP. Foreign net sell tercatat mendekati Rp 1 triliun.

Penguatan indeks sepertinya tidak terpengaruh oleh panasnya kondisi perpolitikan Indonesia. Sementara di sisi lain, indeks MSCI Asia Pasifik justru mengalami pelemahan sebesar -1,5% sepekan kemarin.

Penguatan sektor tambang beberapa waktu terakhir ini dinilai tidak akan bertahan lama. Karena di sisi lain, harga komoditas minyak justru mengalami pelemahan. Harga minyak WTI pada perdagangan akhir pekan kemarin mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak bulan Januari sebesar -1,3%.

Selain itu, meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun akan semakin menekan harga komoditas secara umum. Hal ini akan berimbas negatif pada kinerja saham sektor tambang.

Sementara itu, Wall Street ditutup dengan pelemahan terbesar sejak 36 tahun lalu seiring dengan kekhawatiran investor terhadap pemilu AS pada esok hari (8/11).

Indeks DJIA menjadi 17,888/-0,24%, Indeks S&P 500 2,085/-0,17% dan Nasdaq 5,046/-0,24%. Data ekonomi AS yakni tingkat unemployment rate tercatat stabil pada 4,9%, sementara data nonfarm payrolls turun -8,0%.

Global

Data Non Farm Payrolls dirilis lebih rendah dibandingkan bulan lalu di angka 161.000. Data NFP sempat membuat Dollar Index anjlok ke level 96,901 atau terendah semenjak 2 minggu terakhir.

Vice Chairman The Fed, Stanley Fischer menyebutkan, data NFP bulan November dirasa sudah cukup bagi AS di mana menurutnya level ideal adalah 65.000-115.000.

Menjelang pemilu Amerika, FBI menyimpulkan bahwa Hilary Clinton tidak bersalah terkait kasus email pribadi. Hal ini membuat dolar AS dibuka menguat terhadap majors DXY (97.363) pada perdagangan Asia. Dari bursa saham, Dow Jones Industrial (DJIA) ditutup melemah -0,24% di angka 17.888,28.

Regional

Sterling melanjutkan tren positif pasca perumusan Article 50 yang didukung oleh Mark Carney. Hal ini membuat proses Brexit tidak akan secepat dugaan sebelumnya.

GBP/US$ ,melesat 110 poin setelah data NFP dirilis di bawah ekspektasi market. Sterling mencoba titik resistance 1,2562. Aussie masih stabil di angka 0,7674 meskipun harga Emas dibuka melemah 12 US$ per troy ounce.

Data-data fundamental yang menjadi perhatian market minggu ini adalah data neraca perdagangan China yang akan dirilis Selasa besok di mana konsensus memperkirakan akan terjadi peningkatan sebesar US$ 10 miliar. Selain data China, rencana RBNZ (Bank Sentral New Zealand) yang diprediksikan menurunkan suku bunga menjadi 1,75% pada Rabu mendatang.

Dalam Negeri

Pasca demo Jakarta, Index Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup positif 0,62% ke level 5.362.66. Rupiah Non Deliverable Forward 1 bulan anjlok pada Jumat lalu ke level Rp 13.209 disebabkan oleh Demonstrasi yang berakhir ricuh pada Jumat malam.

Untuk pagi ini, pasar Spot Dolar terhadap Rupiah dibuka Rp 13.088 atau menguat 22 poin dibandingkan dengan pembukaan. Pemerintah menargetkan Rp 10 Triliun pada lelang SPN 3 bulan serta 1 tahun yang rencananya akan dijadwalkan besok. (drk/drk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed