Follow detikFinance
Rabu 22 Feb 2017, 09:44 WIB

Rusia Menjadi Produsen Minyak #1, Masihkah Minyak Potensi Menguat?

Ellen May - detikFinance
Rusia Menjadi Produsen Minyak #1, Masihkah Minyak Potensi Menguat? Foto: Istimewa
Jakarta - Belum lama ini, terjadi berbagai hal yang menyebabkan tekanan terhadap kenaikan harga minyak. Mulai dari stok minyak Amerika, ditangguhkannya pemangkasan minyak negara OPEC, hingga Rusia yang saat ini menyalip Arab sebagai penguasa talang minyak terbesar di dunia. Lalu, di tengah semua masalah serta hambatan tersebut, masihkah ada peluang bagi minyak untuk terus menguat?

Kemarin meskipun sempat menguat, IHSG ditutup kembali melemah jelang akhir perdagangan. Apa penyebabnya? Simak jawabannya berikut ini.

IHSG pada perdagangan kemarin, ditutup melemah dengan pelemahan sebesar 0,34% di level 5,340.99. Pelemahan ini diakibatkan masih belum adanya sentimen kuat yang bisa mendorong kenaikan IHSG. Sementara itu, akan diadakannya FOMC Meeting Minutes pada Kamis dini hari nanti juga diperkirakan akan menjadi fokus para trader. Pada hari ini, pasar Amerika kembali melakukan perdagangan setelah sempat libur akibat President's day kemarin. Hari ini Dow jones kembali melanjutkan rallynya dengan penguatan sebesar 0,58% ke level 20,743.00, masih didorong oleh optimisme trader terkait kebijakan Trump.

Arab merupakan produsen minyak terbesar di dunia, setelah Rusia dan Amerika. Namun, baru-baru ini, Rusia menyalip posisi Arab sebagai negara dengan produksi minyak terbesar, itu berarti terjadi peningkatan yang cukup signifikan terhadap produksi minyak di negara tersebut. Meskipun begitu, apakah minyak masih berpotensi menguat? Simak pembahasannya berikut ini.

Negara Kilang Minyak

Minyak Bumi merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia modern saat ini. Bahan Bakar untuk kendaraan bermotor (BBM) seperti Premium, Pertamax, Solar merupakan hasil olahan dari Minyak Bumi.

Untuk patokan harganya sendiri, ditentukan dari jumlah pasokan ataupun produksi dari negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, Amerika Serikta, dan Rusia. Sebagai 3 negara penghasil minyak, tingkat produksi ke-3 negara ini sangat menentukan harga dari komoditas minyak mentah ini.

Baru-baru ini, Rusia menyalip Arab Saudi sebagai penguasa minyak pada bulan Desember ini. Berdasarkan data Joint Organisations Data Initiative (JODI) yang dikutip Reuters, Rusia memompa 10,49 juta barel per hari di bulan Desember, turun 29.000 barel per hari dari November, sementara output Arab Saudi turun ke level 10,46 juta barel per hari dari 10,72 juta barel hari pada bulan November.

Seperti yang kita ketahui, Rusia dan Amerika tidak termasuk dalam anggota kenegaraan OPEC, jadi mereka tidak memiliki alasan untuk membatasi jumlah output minyak yang dihasilkan oleh negaranya.

Meskipun begitu, November lalu Arab Saudi dan produsen Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sepakat untuk membatasi pasokan sebesar 1,2 juta barel per hari selama enam bulan mulai 1 Januari.

Di samping itu, Reuters juga melaporkan pekan lalu bahwa OPEC dapat memperpanjang pemangkasan produksi yang disepakati November lalu jika persediaan minyak mentah global belum cukup untuk mendorong harga.

Berdasarkan data resmi pemerintah Arab Saudi, pengiriman minyak mentah turun pada Desember ke level 8,014 juta barel per hari (bph) dari 8,258 juta bph pada bulan November.

Berkat sentimen tersebut, harga minyak mentah dunia berhasil menguat pada perdagangan kemarin. Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI kontrak Maret 2017 menguat 0,51% ke US$53,67 per barel pada pukul 13.09 WIB, setelah dibuka dengan kenaikan 0,15% di posisi 53,48.

Patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak April 2017 turut naik meski hanya sebesar 0,04% ke level US$56,20, setelah sempat turun tipis 0,02% di posisi 56,17.

Para investor saat ini berpegang lebih banyak pada bursa minyak mentah dibandingkan sebelunnya, menyusul komitmen para anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk mengurangi produksi, hal ini tentunya mencerminkan optimisme dalam pasar minyak itu sendiri.

Penguatan minyak ini tentunya akan memberikan efek positif terhadap beberapa saham di sektor pertambangan minyak, seperti BIPI, ELSA dan MEDC. Setelah sempat melemah beberapa hari akibat menurunnya harga minyak dunia kemarin. (dna/dna)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed