ADVERTISEMENT

Tahun Ini, Pemerintah Bakal Jual Surat Utang Rp 439 Triliun

- detikFinance
Senin, 26 Mei 2014 12:22 WIB
Jakarta - Pemerintah telah mengajukan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2014. Di dalamnya, pemerintah mengubah berbagai asumsi makro hingga postur anggaran seperti penerimaan dan belanja negara.

Penerimaan negara diturunkan dari Rp 1.667,1 triliun menjadi Rp 1.597,7 triliun. Di sisi lain, belanja negara naik dari Rp 1.842,5 triliun menjadi Rp 1.849,4 triliun. Ini menyebabkan defisit anggaran berubah dari 1,7% terhadap PDB menjadi 2,5% PDB.

Menurut Robert Pakpahan, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, kenaikan defisit menyebabkan tambahan utang baru sekitar Rp 69 triliun. "Kalau lihat di APBN, targetnya gross Rp 370 triliun. Tapi di proposal pemerintah ada tambahan Rp 69 triliun," katanya di gedung Kemenkeu, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Tambahan utang tersebut, lanjut Robert, akan disebar dengan berbagai instrumen. "Sebagian besar akan kita tambahkan ke lelang domestik yang reguler sampai 80%. Kami punya ruang20% untuk penerbitan valas seperti ke euro bonds atau global sukuk," katanya.

Menurut Robert, tambahan pembiayaan adalah dampak dari kenaikan defisit anggaran. Salah satu penyebabnya adalah pembengkakan subsidi.

Subsidi BBM, elpiji 3 kg, dan BBN naik dari Rp 210,7 triliun menjadi Rp 285 triliun. Sementara subsidi listrik naik dari Rp 71,4 triliun menjadi Rp 107,1 triliun.

"Defisit dinaikkan dari 1,7% ke 2,5% karena subsidi dan kurs berubah. Jadi pembiayaan nambah lagi Rp 69 triliun," tutur Robert.

Tahun ini, per 26 Mei pemerintah sudah menerbitkan surat utang sebesar Rp 209,448 triliun atau hampir 60% dari target Rp 370 triliun. Menurut Robert, sejauh ini profil utang pemerintah masih cukup sehat.

"Ukuran utang manageable itu dilihat dari PDB. Rasio utang terhadap PDB 24% itu manageable, nggak panik kita. Makanya diatur jatuh tempo utang kita ada yang 1 tahun, 2 tahun, ada yang 30 tahun," jelas Robert.

Utang, demikian Robert, juga masih dibutuhkan. "Sepanjang hasil utang itu dipakai untuk infrastruktur kan bagus. Misalnya membangun pelabuhan sekarang dengan utang kan keuntungannya bisa langsung dirasakan sekarang. Daripada menunggu nabung dulu 10 tahun, terlambat," tuturnya.

 
(hds/dnl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT