Follow detikFinance
Sabtu 07 Jan 2017, 08:28 WIB

Ada Apa dengan JPMorgan dan Sri Mulyani?

Ellen May - detikFinance
Ada Apa dengan JPMorgan dan Sri Mulyani? Foto: Istimewa
Jakarta - Siapa yang tidak mengenal Menteri Keuangan kita Sri Mulyani Indrawati. Wanita yang lahir di Lampung pada 26 Agustus 1962 itu, merupakan wanita pertama dan sekaligus satu-satunya orang Indonesia yang pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Setelah dipanggil oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat kembali sebagai Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani selalu melakukan gebrakan-gebrakan yang membuat ia sampai mendapatkan julukan sebagai Tukang Jagal. Ia juga merupakan orang yang pantas menjadi panutan, akibat keputusannya yang tegas meskipun harus berhadapan dengan bankir kelas dunia sekali pun.

Salah satu contoh ketegasan yang dilakukan Sri Mulyani baru-baru ini, terkait pemutusan hubungan kerja sama dengan bank internasional JPMorgan. Siapa sebenarnya JPMorgan? Kenapa alasan sampai terjadi pemutusan hubungan itu? Lalu bagaimana dampak pemutusan hubungan itu? Apa saja yang bisa kita lakukan terkait pemutusan hubungan ini? Simak terus ulasan berikut ini.

Siapa sebenarnya JPMorgan?
JPMorgan merupakan salah satu badan riset keuangan yang terkemuka di dunia. Nama JPMorgan sendiri tentu saja diambil dari pendiri perusahaan itu sendiri JPMorgan, yang lahir pada 17 April 1837, di Hartford, Connecticut. JPMorgan di kemudian hari menjadi salah satu pemodal yang paling terkenal dalam sejarah bisnis. Morgan memulai perusahaan perbankan swastanya sendiri, yang kemudian dikenal sebagai JPMorgan & Co, salah satu lembaga riset yang diakui di dunia.

Apa yang menyebabkan pemutusan hubungan dengan JPMorgan ?
Sebelumnya, pada 13 November 2016 lalu, JPMorgan mengeluarkan riset berjudul 'Trump Forces Tactical Changes' yang ditujukan untuk para investor JPMorgan. Dalam hasil riset itu, JPMorgan memaparkan efek dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Ini membuat pasar keuangan dunia bergejolak, terutama negara-negara berkembang.

Terkait hal itu, JPMorgan memangkas peringkat surat utang atau obligasi Indonesia dari overweight menjadi underweight atau turun dua peringkat. Indonesia bahkan dianggap lebih buruk dari Brasil yang hanya turun 1 peringkat dari Overweight menjadi Neutral, padahal brasil sedang dalam masa resesi.

Atas peringkat Indonesia yang turun drastis, maka JPMorgan menyarankan agar investor untuk berpikir membeli surat utang dari negara lain yang lebih baik.

Overweight, Neutral dan Underweight?
Sebagai penjelasan, overweight artinya adalah selama 6 hingga 12 ke depan, pasar keuangan akan bergerak di atas rata-rata ekspektasi dari para analis. Netral artinya dalam rentang yang sama, pergerakannya sesuai ekspektasi. Sedangkan underweight artinya di bawah espektasi atau diperkirakan lebih buruk.

Indonesia turun 2 peringkat, apakah ekonomi Indonesia dalam keadaan buruk?
Riset JPMorgan Chase Bank berjudul 'Trump Forces Tactical Changes' yang dirilis pada 13 November 2016 harus berakhir dengan pemutusan kontrak kerja sama dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Penurunan peringkat surat utang pemerintah dari overweight menjadi underweight dinilai tidak berdasarkan data yang akurat.

Ekonomi dunia memang tengah dalam kondisi ketidakpastian, terutama pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Pasar keuangan bergejolak dan negara-negara berkembang dimungkinkan terkena dampak paling signifikan.

Akan tetapi, Indonesia berbeda dengan banyak negara berkembang lainnya. Data 2016 menunjukkan, pertumbuhan ekonomi masih pada kisaran 5%. Inflasi di akhir tahun 3,02% dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) terjaga pada level sekitar 2%.

Pada sisi fiskal, pemerintah akhirnya mampu menjaga defisit anggaran pada posisi 2,46%, dengan penerimaan sebesar Rp 1.551,8 triliun (86,9%) dan belanja Rp 1.859,5 triliun (89,3%). Jadi, dari data tersebut bisa dibilang bahwa ekonomi Indonesia bisa dibilang stabil, bahkan lebih bagus dibandingkan negara-negara berkembang lainnya.

Bagaimana dengan peringkat negara lainnya?
Dalam riset tersebut, JPMorgan hanya menurunkan satu peringkat surat utang Brasil dan Turki. Padahal cukup jelas bahwa negara-negara tersebut memiliki persoalan yang berisiko lebih tinggi, seperti Brasil dengan resesi ekonomi dan Turki dengan gejolak sosial politik dan keamanan di dalam negeri.

Bahkan peringkat surat utang negara seperti Rusia dan Malaysia justru dinaikkan. Padahal banyak lembaga Internasional sejenis justru memberikan opini positif terhadap Indonesia.

Lalu, bagaimana reaksi Indonesia?
Lembaga riset sangat penting peranannya dalam mendorong perekonomian sebuah negara. Hasil yang dikeluarkan dapat mempengaruhi kondisi pihak-pihak terkait, yang dalam hal ini adalah investor. Sri Mulyani melihat riset yang dikeluarkan oleh JPMorgan tidak berlandaskan indikator yang tepat dan dapat mengurangi minat para investor terhadap Indonesia.

Riset tersebut kemudian direspons oleh Sri Mulyani lewat surat Menteri Keuangan Nomor S-1006/MK.08/2016 tanggal 17 November 2016. Dalam surat itu, Sri Mulyani menyatakan, riset berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional dan mengakhiri segala bentuk kemitraan dengan JPMorgan dalam bentuk segala aspek.

Atas pemutusan kontrak itu, lantas apa jawaban JPMorgan dan hal apa saja yang berubah?
Sama seperti Indonesia, JPMorgan juga mengatakan bahwa pemutusan kemitraan itu tidak akan berdampak terlalu besar terhadap klien-kliennya, karena yang diputuskan hanya hubungan kemitraan dengan kementrian keuangan. Bukan pencabutan bisnisnya yang sedang berjalan di Indonesia.

Terkait hal itu, dengan pemutusan kontraknya untuk kerja sama sebagai bank persepsi, maka ada beberapa hal yang berubah, yaitu:
- Tidak menerima setoran penerimaan negara dari siapa pun di seluruh cabang JPMorgan Chase Bank NA terhitung 1 Januari 2017
- Menyelesaikan segala perhitungan atas hak dan kewajiban terkait pengakhiran dan penyelenggaraan layanan JPMorgan Chase Bank sebagai Bank Persepsi
- Segera melakukan sosialisasi kepada semua unit/staf dan nasabah terkait dengan berakhirnya status bank persepsi tersebut.

Lalu, apakah hal itu tidak akan menganggu investasi dan penjualan surat utang di Indonesia?
Pemerintah memastikan pemutusan kemitraan dengan JPMorgan Chase Bank tidak akan mengganggu penjualan surat utang pemerintah Indonesia. Alasannya masih banyak mitra lainnya yang mampu merealisasikan kebutuhan dari pemerintah.

Kehilangan JPMorgan, pemerintah masih memiliki 20 dealer utama Surat Utang Negara (SUN) dan 22 peserta Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Kemudian untuk bank persepsi dari program pengampunan pajak masih tersedia 76 bank lagi.

Posisi apa saja yang hilang dari JPMorgan akibat pemutusan hubungan kemitraan itu?
Terkait keputusan Sri Mulyani lewat surat Menteri Keuangan Nomor S-1006/MK.08/2016 tanggal 17 November 2016, JPMorgan harus kehilangan beberapa posisi, yang pertama adalah sebagai dealer utama atau agen penjual Surat Utang Negara (SUN).

Kemudian, ia juga harus melepaskan posisinya sebagai anggota panel join lead underwriter untuk menerbitkan global bond sekaligus sebagai penerima pajak bank persepsi.

Apa itu Bank Persepsi?
Bank Persepsi ialah bank umum yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan selaku BUN (Bendahara Umum Negara) menjadi mitra KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) untuk menerima setoran penerimaan negara bukan dalam rangka impor dan ekspor, yang meliputi penerimaan pajak, cukai dalam negeri, dan penerimaan bukan pajak.

Atas jasa pelayanan penerimaan setoran penerimaan negara tersebut Bank Persepsi memperoleh imbalan dari Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Besarnya imbalan jasa pelayanan penerimaan Negara tersebut ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Bank umum yang ingin menjadi Bank Persepsi harus mengajukan izin kepada Menteri Keuangan untuk dapat ditunjuk menjadi Bank Persepsi.

Apakah ada kemungkinan JPMorgan kembali menjadi mitra Indonesia ke depannya?
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih membuka kesempatan bagi JPMorgan Chase Bank untuk kembali lagi menjadi mitra kerja sama sesuai fungsi sebelumnya. Asalkan JPMorgan sudah bisa dianggap layak oleh pemerintah.

Layaknya JPMorgan dilihat dari mekanisme riset yang dijalankan, di mana mampu menghasilkan data yang akurat. Pada sisi lain juga bisa menunjukkan upaya saling mendukung dan menguntungkan satu sama lain.

Jadi, bagaimana sikap kita terkait pemutusan hubungan kerja ini?
Sebenarnya, menghilangnya peranan JPMorgan dari dunia ekonomi Indonesia tidak terlalu berdampak terhadap transaksi pasar di bursa. Namun, dengan melepaskan hubungan dengan JPMorgan, Indonesia mempertegas bahwa sekali pun dinilai jelek oleh lembaga riset kelas dunia sekalipun, Indonesia tetap mampu untuk terus menjaga kestabilan dan pertumbuhan ekonominya.

Hal ini justru dipandang secara positif bagi pelaku pasar dalam negeri, dan tidak memberi pengaruh negatif untuk Indonesia.

Bagaimana langkah berikutnya sebagai trader?
Dapatkan rekomendasi trading saham terpercaya dan edukasi dengan daftar menjadi member di bit.ly/daftarpremiumaccess.

Semoga artikel ini bermanfaat dan salam profit! (wdl/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed