Demikianlah diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo pada acara High Level International Seminar di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/4/2017).
"ASEAN adalah wilayah yang selalu belajar dari masa lalu dan melihat kesempatan untuk meningkatkan sinergi terhadap pelayanan. Indonesia pasti akan berperan dalam proses ini, dengan upaya yang konsisten untuk mendekati penggabungan kebijakan moneter, kebijakan fiskal dan struktur lainnya yang tepat," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus memaparkan, ekonomi Indonesia yang bisa tetap tumbuh di saat ekonomi global melambat, menjadi satu indikator positif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5% pada tahun 2016 ditopang oleh konsumsi domestik, menghidupkan kembali ekspor dan investasi.
Faktor lainnya yang mendukung adalah stabilitas keuangan. Hal ini dapat dilihat lewat inflasi yang berhasil ditekan pasca krisis tahun 2013 sebesar 8,4%, ke angka 3,61% pada bulan Maret 2017 lalu.
Di sisi perbankan, pada bulan Januari 2017 rasio kecukupan modal tercatat sebesar 23% dan kredit bermasalah mencapai 3,1% gross atau 1,4% net.
"Apalagi sistem perbankan kita adalah yang paling bermartabat dan menguntungkan di pasar negara berkembang. Ini memberikan penyangga yang kuat untuk mendukung stabilitas keuangan," ucap Agus.
Dengan berbagai indikator tersebut, ditambah membaiknya daya tahan Asean terhadap pengaruh dari luar, membuat ekonomi Indonesia dirasa cukup tahan terhadap gejolak yang ada.
"Jadi Asean akan secara konsisten meningkatkan kapasitasnya sebagai grup ekonomi yang unik dan visi yang kuat. Di jangka pendek ini memang menjanjikan, tapi tetap saja ada tantangan. Itu yang menyebabkan kita harus tetap hati-hati, misalnya menghadapi proteksionisme. Tapi saya percaya ASEAN sudah siap menghadapi itu dengan pengalaman yang ada," pungkasnya.
(mkj/mkj)











































