Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 31 Mei 2018 15:24 WIB

Bunga Acuan Naik, Bisakah Bunga Kredit Tak Ikut Naik?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
FOKUS BERITA Bunga Acuan Naik Lagi
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75% dari sebelumnya 4,5%. Kebijakan ini disebut akan mengerek suku bunga kredit di perbankan nasional.

Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak menginginkan bunga kredit ikut meningkat. Alasannya, saat ini kondisi likuiditas di perbankan nasional masih banyak, jadi tak ada bank yang membutuhkan dana besar dengan jor-joran memberi bunga deposito yang besar.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Senin (28/5) menyebutkan OJK dan BI akan mendorong perbankan untuk lebih efisien. Sehingga bank tidak hanya memanfaatkan pendapatan dari bunga saja. Namun bank juga bisa meraup pendapatan dari non bunga seperti fee base dan efisiensi teknologi.


Nyatanya saat ini perbankan nasional dinilai belum efisien, mulai dari net interest margin (NIM) yang masih di kisaran 5% hingga beban operasional dan pendapatan operasional (BOPO) yang masih tinggi. Jadi kemungkinan bank untuk menahan diri tak menaikkan bunga kredit sangat kecil.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan BOPO bank saat ini masih di kisaran 80% dan rasio keuntungan dari bunga bersih bank masih 5%. "Bank belum efisien, BOPO masih tinggi, NIM nya masih gemuk. Padahal bank di kawasan Asean NIM nya cuma 1% - 3%," kata Bhima saat dihubungi detikFinance, Kamis (31/5/2018).

Dia menjelaskan, di Indonesia masih terjadi interest rate rigidity yang menyebabkan jika adanya kenaikan bunga acuan bank sentral, maka kenaikan bunga kredit lebih cepat dibandingkan ketika BI menurunkan suku bunga.

"Waktu bunga acuan naik, bunga kredit lebih cepat naiknya dibanding ketika BI turunkan bunga. Interest rate rigidity ini terjadi selain karena inflasi juga karena struktur bank di Indonesia belum efisien," ujar dia.


Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan dengan kenaikkan suku bunga acuan BI ini dipastikan akan ada peningkatan pada bunga kredit perbankan. Dia menjelaskan dibutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 bulan setelah kenaikan bunga acuan.

"Pada saat kenaikan bunga, perbankan pasti akan menjaga keuntungan yang optimal, sehingga mereka langsung menyesuaikan suku bunga," ujar Josua.

Menurut Josua untuk bunga kredit ini dibutuhkan waktu paling cepat satu bulan untuk meningkat. Nah kenaikan ini disebut akan berimbas langsung kepada sektor riil.

Josua menambahkan, meskipun bunga kredit relatif tinggi namun dengan konsumsi dan permintaan yang meningkat maka pertumbuhan diharapkan bisa lebih baik. Sehingga target penyaluran kredit tahun 10% - 12% bisa tercapai.

Berdasarkan data BI rata-rata suku bunga deposito tercatat 5,84% dan bunga kredit 11,2%. Pertumbuhan kredit pada Maret 2018 tercatat sebesar 8,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,2% (yoy).

Direktur Keuangan Bank Negara Indonesia (BNI) Anggoro Eko Cahyo menjelaskan dengan naiknya bunga acuan belum tentu bunga kredit akan mengalami kenaikan. "Belum pasti langsung naik, kan butuh waktu dan tergantung likuiditas banknya," kata Anggoro.


Dia menambahkan dalam menaikkan tingkat bunga dibutuhkan kajian dan perhitungan dari perbankan. Jadi tidak mesti setiap ada kenaikan bunga acuan diikuti oleh kenaikan suku bunga kredit. Dia menyebutkan, dengan penyesuaian ini pasti akan ada penyesuaian pada bunga deposito. (dna/dna)
FOKUS BERITA Bunga Acuan Naik Lagi
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed