Follow detikFinance
Senin, 09 Jul 2018 15:39 WIB

Penjelasan Operator Soal Aplikasi Utang Online Bisa 'Intip' SMS

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Tim Infografis Zaki Alfarabi Foto: Tim Infografis Zaki Alfarabi
Jakarta - Industri fintech terutama yang bergerak di di sektor industri 'utang online' saat ini tengah menjadi sorotan lantaran ada persyaratan untuk mengakses alias mengintip kontak hingga riwayat telepon nasabah yang ingin mengajukan pinjaman.

Kenapa persuahaan aplikasi utang online harus menerapkan strategi tersebut?

Direktur RupiahPlus Bimo Adi Prabowo mengatakan, untuk meminimalisir risiko kredit macet RupiahPlus menerapkan verifikasi berlapis.

Pertama saat memasang aplikasi RupiahPlus, aplikasi itu meminta beberapa izin seperti mengakses kontak, lokasi, pesan hingga foto dan media.


Untuk izin mengakses pesan, pihaknya ingin memastikan bahwa nomor yang digunakan bukan nomor yang baru. Caranya dengan melihat pesan sms paling lama yang masuk ke telepon gengamnya.

"Kita belum kerjasama dengan operator, makanya kami minta akses itu. Kalau ternyata sms paling lamanya baru satu hari, ini potensi fraudnya besar," tuturnya kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Lalu untuk izin akses lokasi untuk memastikan lokasi nasabah saat mengajukan pinjaman. Selain itu untuk mencocoikkan alamat yang terisi dalam formulir.

"Misalnya juga dia meminjam dengan alasan untuk keperluan pengobatan, ternyata lokasinya ditempat hiburan," tambahnya.

Sementara untuk akses kontak, Bimo beralasan hanya untuk mengakses data, bukan untuk menggunakan kontak yang ada di telepon genggam nasabahnya.

"Menurut UU ITE boleh tapi hanya untuk akses data saja. Ini juga untuk konfirmasi nomor emergency yang dicantumkan, takutnya fiktif," terang Bimo.

Saat pengajuan nasabah diharuskan mengisi data pribadi termasuk mengunggah foto, KTP dan kartu identitas kerja. Di tahap akhir aplikasi RupiahPlus mengharuskan verifikasi wajah.


Untuk skema pinjaman, RupiahPlus mengharuskan pelunasan pinjaman 14 hari setelah pinjaman cair. Tiga hari sebelum jatuh tempo pihaknya sudah menghubungi nasabahnya untuk mengingatkan.

Jika melebihi tanggal jatuh tempo, maka perusahaan akan melakukan penagihan melalui pesan singkat maupun telepon setiap harinya.

RupiahPlus juga mengenakan denda, namun pihaknya menerapkan grace period atau masa tenggang selama 1 minggu. Setelah itu dikenakan denda 0,1%-1% dari pinjaman yang diajukan.


Jika dalam waktu 30 hari tidak juga melakukan pembayaran, maka RupiahPlus mulai menghubungi kontak emergency yang dicantumkan jika nasabahnya hilang kontak.

"Dendanya terus berjalan meski sudah 30 hari," ucapnya.

Meski begitu, Bimo mengakui rasio kredit bermasalah RupiahPlus masih lebih besar dari rata-rata perbankan. Namun dia enggan mengungkapkannya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed