Follow detikFinance
Kamis, 19 Jul 2018 20:05 WIB

Kekurangan Dolar AS, Mandiri Cari Dana US$ 500 Juta

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Perbankan nasional tengah menghadapi permasalahan keterbatasan likuiditas dalam bentuk valuta asing. Hal itu pun juga diakui oleh PT Bank Mandiri Tbk.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, keterbatasan likuiditas valas lantaran adanya gejolak di pasar global yang membuat penarikan dana dalam bentuk valas begitu besar.

Untuk itu, pihaknya akan mencari dana dalam bentuk valas sekitar US$ 500 juta atau setara Rp 7 triliun (kurs Rp 14.000). Ada 3 cara untuk menghimpun dana itu yakni penerbitan obligasi global, pinjaman bilateral ataupun REPO dengan underlying aset SBN.

"Kami sedang kaji dari sisi tenor dan cost, mana yang lebih efisien dan optimal. Sekitar 1-2 bulan ke depan akan kami putuskan," tuturnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (19/7/2018).


Pengetatan likuiditas valas juga menjadi alasan Bank Mandiri berpikir lebih jauh untuk memberikan pinjaman kepada Inalum guna membeli saham Freeport Indonesia. Angka yang sebesar US$ 3,85 miliar atau Rp 53,9 triliun (Kurs Rp 14.000/US$) dianggap terlalu besar bagi perbankan nasional.

"Memang kita menyampaikan, bahwa ya mungkin dikasih kesempatan yang bank asing dulu. Karena untuk bank lokal untuk mendapatkan dana funding dengan size besar itu. Dengan tenor seperti di zaman sekarang ini kita kan mencari funding-nya enggak mudah," tambahnya.

Kartika juga mengakui bahwa likuiditas valas menjadi tantangan bagi Bank Mandiri tahun ini. Selain itu ada pula tantangan dari sisi likuiditas rupiah.

Dengan meningkatkan suku bunga acuan BI 7 day repo rate membuat perbankan berlomba-lomba menyalurkan kredit. Sementara penghimpunan dana tidak sebesar pertumbuhan kredit.

Pada Semester I tahun ini misalnya, kredit Bank Mandiri tumbuh 11,8% secara year on year menjadi Rp 762,5 triliun. Sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri hanya naik 5,5% menjadi Rp 803 triliun.


"Ini yang jadi tantangan bagi semua bank karena dengan lebih besar pertumbuhan kredit dibandingkan DPK membuat bunga deposito akan tinggi sekali, sehingga NIM akan kena. Kami lihat NIM kami akan turun cukup signifikan," tuturnya.

Karena kondisi tersebut Bank Mandiri memperkirakan Net Interest Margin (NIM) turun dari 5,7% menjadi 5,5%. Pihaknya belum mau untuk membebani kondisi tersebut kepada nasabahnya.

Hal itu juga diakuinya akan mempengaruhi laba bulanan Bank Mandiri yang akanb turun dari rata-rata Rp 2 triliun. Meski begitu dirinya tetap yakin laba tahunan ini naik 18-20%.

"Kalau di akhir tahun mungkin masih bisa plus sedikit lah. Biasanya laba semester II lebih kencang dari semester I, tapi ini mungkin naik tipis lah," ujarnya.



Tahun ini untuk kredit Bank Mandiri menargetkan tumbuh 11-13%, NIM di kisaran 5,5%-5,7%, rasio Non Performing Loan (NPL) gross 2,8-3,2% dan biaya kredit tumbuh 2-2,2%. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed