Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 11 Okt 2018 09:38 WIB

Diplomasi Kopi Ala Gubernur BI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Dok. Bank Indonesia Foto: Dok. Bank Indonesia
Nusa Dua - Di sela-sela acara pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank 2018 di Nusa Dua Bali, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyempatkan diri untuk menikmati kopi Indonesia.

Ia mengunjungi booth Brikopi yang ada di dekat ruang Uluwatu di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) pada Rabu sore. Booth kopi ini ditujukan untuk donasi yang hasilnya disumbangkan untuk korban gempa Lombok dan Palu. Jadi, setiap gelas kopi yang keluar akan dihitung untuk sumbangan sebesar Rp 100.000, setiap harinya booth menargetkan bisa memberikan 500 gelas kopi.

Perry memesan kopi hitam. Kemudian barista Harison Chandra membuatkan kopi Toraja campur Mandhailing. Pria kelahiran Sukoharjo ini sangat menyukai aroma kopi campuran pahit itu.

"Makanya di BI departemen internasional selalu ada kopi dalam kemasan kecil untuk dibawa ke luar jika ada pertemuan. Itu kami namakan diplomasi kopi, sudah dua tahun ini seperti spring meeting Oktober lalu kami juga bawa kopi Indonesia, sebagai salah satu promosi lah," kata Perry di BNDCC, kemarin.



Dia menjelaskan diplomasi kopi yang ia dan departemennya lakukan selalu berhasil. Karena banyak orang luar negeri yang sangat menyukai aroma dan rasa kopi dari Indonesia.

"Biasanya kalau di negara lain kan beda, tidak seperti kopi Indonesia. Punya khas tersendiri," ujar dia.

Ia mengaku menyukai semua jenis kopi Indonesia. Pasalnya, setiap kopi memiliki karakteristik yang unik. Sehingga rasanya tak cukup jika hanya 'ngefans' dengan satu jenis kopi.

Perry menjelaskan kopi memiliki khas yang berbeda, misalnya kopi Bali yang lebih heavy jika minum satu gelas bisa langsung melek, namun punya tingkat keasaman yang tinggi.



Kemudian, jika ia menginginkan aroma yang kuat maka ia menyesap kopi Toraja, Mandhailing atau Gayo. Jenis kopi tersebut aromanya lebih kuat. Nah inilah yang membuat Perry memfavoritkan semua kopi. Menurut perry dari kopi-kopi itu bisa disesuaikan dengan waktu, misalnya jika pagi hari ia ingin kopi dengan rasa yang lebih kuat maka ia minum kopi Bali, Jatim atau Flores. Jika siang atau santai bisa yang aromanya enak seperti Mandhailing.

"Memang sih saya belum bisa bagaimana mencampurnya, tapi kan sekarang ada mesinnya ya, he he he," ujar Perry.

Perry mengungkapkan, saat ini dirinya sudah bisa memahami jika lambungnya sudah kelebihan kopi, maka ia akan berhenti. Namun meskipun gemar meminum kopi tak mempengaruhi rasa kantuk pada dirinya.

"Ya meskipun saya suka ngopi, nggak ada pengaruh ke saya kalau ngantuk ya saya tidur-tidur aja tuh," imbuh dia.

Di kantornya, Perry juga memiliki beberapa jenis kopi yang siap diseduh jika ia ingin menyeruput. Ia mengumpulkan kopi-kopi tersebut jika berdinas ke daerah.

"Kopi itu karunia Allah, harus dinikmati. Saya minum kopi tanpa gula, karena saya mau rasakan kopinya bukan gulanya," ujar dia.

Gubernur BI Perry Warjiyo mencicipi kopi di sela acara IMF-WB Annual Meeting 2018Gubernur BI Perry Warjiyo mencicipi kopi di sela acara IMF-WB Annual Meeting 2018 Foto: Dok. Bank Indonesia







Tonton juga 'Catat! Gelaran IMF-World Bank Bukan untuk Tambah Utang Negara':

[Gambas:Video 20detik]

(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed