Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 17 Nov 2018 11:19 WIB

Sering Naikkan Suku Bunga, BI Pede Ekonomi Baik-baik Saja

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Solo - Bank Indonesia (BI) menaikkan lagi suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate dari 5,75% menjadi 6%. BI sudah menaikkan suku bunga acuan di tahun ini sebanyak 175 basis poin.

Kenaikan suku bunga terus menerus biasanya menekan laju pertumbuhan ekonomi, namun BI yakin kebijakannya tak akan membuat pertumbuhan ekonomi tahun ini meleset dari target.

"Pertumbuhan ekonomi cukup strong. Kita melihat jadi meski suku bunga naik 150 basis poin ditambah kemarin 0,25%, ekonomi kita masih bisa tumbuh 5%. Proyeksi kita sampai akhir tahun bisa 5,2%," kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (17/11/2018).


Sinyal masih kuatnya pertumbuhan ekonomi menurut Budi terlihat dari masih kuatnya konsumsi dan investasi di tanah air. BI menilai pertumbuhan konsumsi domestik tahun ini masih bisa sampai 6%.

"Ini menunjukkan ekonomi kita cukup strong. Dengan suku bunga dinaikan masih mampu dorong investasi khususnya di infrastruktur yang di non bangunan juga tumbuh," tambahnya.


BI menaikkan suku bunga kali ini tidak mempertimbangkan inflasi, melainkan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). BI percaya masuknya dana asing dengan kenaikan suku bunga bisa menekan defisit CAD.

"Kita masih yakin inflasi tahun ini sekitar 3,2-3,3%, tidak ada issue soal inflasi. Kebijakan moneter tidak kepada inflasi tapi memang ke CAD," ujar Dody.

Pada triwulan III-2018 BI mencatat surplus transaksi modal dan finansial belum cukup untuk membiayai defisit transaksi berjalan. Sehingga neraca pembayaran Indonesia pada triwulan III-2018 defisit US$ 4,4 miliar.


"Kita menaikkan suku bunga kemarin karena kita melihat forward looking. Kita melihat transaksi berjalan masih perly harus dibantu untuk dikurangi. Namun tahun ini kami perkirakan CAD terhadap PDB di bawah 3% turun dari 3. Berarti di triwulan IV-2018 akan turun," tambahnya.

Jika upaya BI bantu redam tekornya transaksi berjalan, maka BI percaya nilai tukar rupiah akan stabil. Itu karena arus dana asing juga berkaitan dengan defisit transaksi berjalan. Jika nilai tukar stabil, tugas utama BI untuk jaga inflasi dan nilai tukar bisa tercapai. (das/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed