Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 31 Mei 2019 16:16 WIB

Kado Lebaran, S&P Kerek Peringkat Utang RI ke BBB

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Andhika Akbarayansyah Foto: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Lembaga Pemeringkat internasional Standard and Poor's (S&P) meningkatkan sovereign credit rating Indonesia dari BBB-/Outlook Stabil menjadi BBB/Outlook Stabil pada 31 Mei 2019.

Menanggapi hal tersebut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyambut baik hasil asesmen S&P yang positif.

"Indonesia kini memperoleh status Investment Grade dengan level yang sama dari ketiga lembaga rating utama yaitu S&P, Moody's dan Fitch. Ini menunjukkan bahwa lembaga rating tersebut memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap prospek ekonomi Indonesia, mulai dari kebijakan moneter, keuangan dengan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi," ujar Perry dalam siaran pers, Jumat (31/5/2019).

Dia menjelaskan BI dan pemerintah tetap berkomitmen untuk melanjutkan reformasi struktural untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, berimbang dan inklusif.

Alasan S&P menaikkan rating Indonesia adalah karena prospek pertumbuhan yang kuat dan kebijakan yang akan berlanjut paska terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden RI.

Perbaikan sovereign credit rating Indonesia ini didukung oleh utang pemerintah yang relatif rendah dan kinerja fiskal yang cukup baik.



Menurut S&P Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain dalam sisi pertumbuhan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah telah efektif mendukung pembiayaan publik yang berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi yang berimbang.

Secara rata-rata dalam 10 tahun terakhir, pendapatan riil per kapita Indonesia tumbuh meyakinkan sebesar 4,1%, jauh lebih tinggi daripada negara peers yang tercatat rata-rata sebesar 2,2%. Hal ini menunjukkan dinamika ekonomi Indonesia yang konstruktif di tengah lingkungan eksternal yang penuh tantangan dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih lanjut, konsumsi merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan PDB diikuti oleh investasi sebagai kontributor yang cukup besar selama lima tahun terakhir. Tren ini dinilai akan terus berlanjut jika pemerintahan Presiden Joko Widodo melanjutkan komitmennya untuk meningkatkan investasi di bidang infrastruktur dan sumber daya manusia.

Di sisi fiskal, rasio utang Pemerintah diperkirakan stabil selama beberapa tahun ke depan sebagai cerminan dari proyeksi keseimbangan fiskal yang juga stabil. Rasio utang pemerintah terhadap PDB diperkirakan tetap sehat di bawah 30% seiring dengan terjaganya defisit fiskal dan pertumbuhan PDB.

Di sisi eksternal, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 175 bps dianggap sebagai kebijakan yang proactive sehingga Indonesia mampu mengatasi risiko yang bersumber dari kerentanan eksternal.

Selain itu, S&P juga meyakini bahwa Indonesia tidak menghadapi extraordinary risk terhadap pemburukan pembiayaan eksternal karena didukung oleh akses terhadap pasar keuangan yang kuat dan berkelanjutan serta arus masuk PMA dalam beberapa tahun terakhir di tengah volatilitas eksternal yang cukup tajam.

S&P sebelumnya mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB-/outlook Stabil (Investment Grade) pada 31 Mei 2018.




Tonton juga video Puding Kurma, Bisa Jadi Pilihan Suguhan Saat Lebaran:

[Gambas:Video 20detik]

(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com