Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 26 Agu 2019 13:34 WIB

Pengusaha Sebut Bank Kegedean Ambil Untung dari Bunga, Pak Perry?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - amar dagang dan industri (Kadin) Indonesia hari ini menggelar Kadin Talks bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Acara ini merupakan diskusi yang digelar Kadin untuk mendengarkan cerita dari nara sumber inspiratif dan sekaligus mendiskusikan kebijakan yang diambil.

Ketua Kadin, Rosan P Roeslani memberikan pertanyaan kepada Gubernur BI terkait bunga di perbankan nasional.

"Pak Perry, kalau bunga acuan turun, bunga deposito turun tapi bunga kreditnya ada leg 6 bulan. Kalau bunga kredit ini kan bisa bantu dunia usaha. Lalu untuk net interest margin (NIM) kan jadi salah satu yang tertinggi di dunia, salah satunya. Pandangan pak Perry bagaimana NIM kita ketinggian atau tidak?" tanya Rosan dalam diskusi Kadin Talks, di Menara Kadin, Jakarta, Senin (26/8/2019). Dia menambahkan NIM di Malaysia 3,2%, Singapura 1,4%, Vietnam 2,7% dan 2,9%.


Menurut Rosan, tingginya NIM di perbankan nasional akan berdampak kepada dunia usaha yang saat ini masih mengandalkan bank sebagai salah satu sumber pendanaan. Jika NIM perbankan lebih rendah diharapkan biaya untuk pengembangan usaha juga bisa lebih rendah.

Menanggapi hal tersebut, Perry mengungkapkan selama ini suku bunga di perbankan sudah mengalami penurunan. Hal ini karena kebijakan BI dan sinergi dengan lembaga terkait.

"Sejak dua tahun lalu, BI kan menaikkan bunga acuan hingga 1,75%, tapi bunga kredit itu turun. Memang sulit dijelaskan hal itu, tapi terjadi penurunan," ujar Perry.

Terkait NIM, Perry mengatakan saat ini sudah terus mengalami penurunan. Menurut Perry menurunnya marjin bunga bersih bank ini tak lepas dari kerja sama antara BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dia mengatakan, perbankan memang harus meningkatkan efisiensi untuk mengurangi NIM.


Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) periode Juni 2019 NIM perbankan tercatat 4,9% atau sekitar Rp 363,3 triliun dari rata-rata total aset produktif Rp 7.407,3 triliun. Angka ini terus mengalami penurunan sejak 2016 yang sebesar 5,39%, 2017 5,32% dan 2018 5,14%.

Dia menambahkan, ada empat faktor yang bisa dianalisis agar suku bunga kredit bisa turun lagi. Pertama kebijakan suku bunga yang dilakukan oleh BI. Kemudian selanjutnya likuiditas yang longgar. Lalu faktor regulasi dari OJK dan sejak tahun lalu direlaksasi. Sehingga kendala bank untuk cost of regulation bisa diturunkan.

Simak Video "Tol Layang Jakarta-Cikampek Bisa Dipakai Mulai 20 Desember 2019"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com