Dahsyatnya Corona Hantam Perbankan RI, Permodalan Makin Kering

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2020 18:10 WIB
Pengembalian Uang Korupsi Samadikun

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Toni Spontana (tengah) menyerahkan secara simbolis kepada Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A. Arianto (ketiga kanan) uang ganti rugi korupsi Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) dengan terpidana Samadikun Hartono di Gedung Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (17/5/2018). Mantan Komisaris Utama PT Bank Modern Samadikun Hartono terbukti korupsi dana talangan BLBI dan dihukum 4 tahun penjara serta diwajibkan mengembalikan uang yang dikorupsinya sebesar Rp 169 miliar secara dicicil. Grandyos Zafna/detikcom

-. Petugas merapihkan tumpukan uang milik terpidana kasus korupsi BLBI Samadikun di Plaza Bank Mandiri.
Foto: grandyos zafna
Jakarta -

Pandemi wabah COVID-19 memberikan dampak yang cukup besar bagi industri perbankan tanah air. Industri ini yang tadinya sedang tumbuh kencang tiba-tiba merosot jauh dan dihadapi berbagai masalah.

Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Anung Herlianto menjelaskan, industri perbankan Indonesia sebenarnya cukup kebal dan terus bertumbuh. Bahkan industri perbankan RI masih bisa bertahan dari gempuran gejolak perang dagang AS vs China.

"Dari sisi kinerja, terlepas dari waktu itu di 2015, 2016 ada taper tantrum, mini crisis, kinerja perbankan Indonesia terus meningkat. Sampai 2019, ada perang dagang AS-China tapi kita tetap tumbuh, yang meredakan pertumbuhan hanya masalah COVID-19 saja. Awal terjadinya COVID-19 di Desember sampai Mei itu benar-benar meredam pertumbuhan yang selama ini meningkat. Jadi luar biasa memang COVID-19 ini," ujarnya dalam acara InfobankTalkNews Media Discussion secara virtual, Kamis (9/7/2020).

Anung menjabarkan dari sisi aset perbankan terus menunjukkan kenaikan dari 2015 ke 2016 naik 10,4%, lalu 2017 naik 9,77%, 2018 naik 9,22% dan 2019 naik 6,13% jadi Rp 8.562 triliun.

Lalu dari sisi kredit juga tumbuh di 2016 9,6%, 2017 9,35%, 2018 tumbuh 6,54% dan 2019 tumbuh 6,54% jadi Rp 5.998 triliun. Sedangkan untuk dana pihak ketiga (DPK) 2016 tumbuh 7,87%, 2017 tumbuh 8,24%, 2018 naik 11,75% dan 2019 tumbuh 6,08% jadi Rp 5.616 triliun.

Namun setelah muncul COVID-19 laju pertumbuhan aset, kredit dan DPK perbankan RI merosot. Hingga Mei 2020 pertumbuhan total aset hanya 0,59%, kredit 2,93% dan DPK hanya 0,6%.

Perbankan juga makin selektif dalam penyaluran kredit di tengah persepsi tingginya risiko kredit seiring dampak pandemi COVID-19.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Update Positif Covid-19 RI Per 9 Agustus: 125.396 Positif, 80.952 Sembuh"
[Gambas:Video 20detik]