Perbankan Harus Awas, Corona Lebih 'Ganas' dari Spanish Flu

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 25 Sep 2020 18:45 WIB
Pandemi Corona membuat sejumlah negara masuk jurang resesi. Indonesia termasuk yang diprediksi menyusul negara-negara tetangga seperti, Singapura Malaysia hingga Thailand.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Wakil Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Pahala Nugraha Mansury mengingatkan sektor perbankan untuk tetap awas menghadapi dampak pandemi virus Corona (COVID-19). Ia menilai, dampak pandemi ini jauh lebih besar dibandingkan krisis lainnya yang sudah pernah terjadi.

"Memang betul-betul secara global pelaku perbankan dan ekonomi untuk berhati-hati untuk mempersiapkan diri. Dan jangan sampai kita tidak awas dan melihat seberapa jauh krisis ini bisa terjadi," ungkap Pahala dalam webinar Perbanas, Jumat (25/9/2020).

Ia membandingkan, dampak COVID-19 ini lebih parah bila dibandingkan dengan krisis kesehatan Spanish Flu di tahun 1918-1919. Pasalnya, dampak Corona ini menyebabkan perekonomian dunia di tahun 2020 kontraksi hampir 5%.

"Kontraksi ekonomi dunia mengalami penurunan sampai minus 5%, atau mendekati minus 5% itu merupakan salah satu kontraksi ekonomi dunia yang paling signifikan. Bahkan pada saat post World War I terjadi Spanish Flu di tahun 1918-1919 pada waktu itu pertumbuhan ekonomi memang mengalami kontraksi, tapi tidak seperti 2020 ini," tutur dia.

Selain itu, menurutnya krisis sebelumnya seperi krisis moneter Asia di tahun 1998, lalu krisis ekonomi di tahun 2008 hanya berdampak regional. Sementara, Corona menampar perekonomian global.

"Jadi dari grafik ini terlihat bahwa mungkin kondisi krisis yang kita hadapi memang sangat dalam. Kalau kita lihat tahun-tahun terakhir krisis itu regional. Seperti Asia financial crisis di 1998, itu kan lebih banyak di negara Asia, termasuk Asia Tenggara, Indonesia, dan Korea Selatan mungkin. Tetapi di 2008 itu mungkin lebih banyak dihadapi AS dan Eropa. Tapi krisis saat ini betul-betul terjadi tidak lagi di satu kawasan tertentu, tapi betul-betul global," imbuh Pahala.

Ia juga mengkhawatirkan, krisis Corona ini akan berlangsung lebih lama dibandingkan krisis lainya yang sudah pernah dialami dunia. "Dan juga jangka waktu krisis betul-betul terjadi cukup panjang. Jadi kalau kita lihat Asia di 1998 itu mungkin hanya 1 tahun, atau kurang dari 1 tahun. Tapi secara umum yang kita lihat responsnya terjadi cukup cepat. Jadi di tahun berikutnya mungkin sudah ada perbaikan," tutup Pahala.

(fdl/fdl)