74 Perusahaan dengan Utang Bank Terbesar Ramai-ramai Pangkas Kredit

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 01 Okt 2020 13:58 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat adanya penurunan baki debet atau total kredit/pinjaman di perbankan dari 74 debitur terbesar di Indonesia. Penurunan baki debet bahkan mencapai angka Rp 61,2 triliun.

"Untuk korporasi 74 debitur besar dari 100 debitur besar pada Agustus mengalami penurunan baki debet yang totalnya Rp 61,2 triliun dengan rata-rata turun sebesar 12,9%" kata Wimboh dalam rapat kerja virtual, Kamis (1/10/2020).

Dari 74 perusahaan kelas kakap itu, Wimboh memberikan detail penurunan nilai kredit dari 5 perusahaan dengan kredit/utang di bank terbesar antara lain PT PLN (Persero), PT Gudang Garam Tbk, PT Wilmar Nabati Indonesia, Petrokimia Gresik, dan Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

"Di mana yang terbesar adalah kredit PLN, Gudang Garam, Wilmar Nabati, Petrokimia Gresik. PLN sendiri sebelumnya Rp 7,2 triliun, GGRM Rp 5,3 triliun, Wilmar Nabati Rp 4,9 triliun, Petrokimia Gresik Rp 4,9 triliun, dan Indofood Sukses Makmur turun Rp 4,4 triliun. Ini adalah salah satu terjadi kontraksi juga baki debet di beberapa korporasi," papar Wimboh.

Meski nilai kredit di sektor korporasi secara yoy masih tumbuh 1,86% atau sebesar Rp 39,8 triliun, namun secara year to date (YTD) turun 2,41% atau mencapai Rp 53,8 triliun.

Selain itu, berdasarkan data OJK memang pertumbuhan kredit mengalami penurunan di bulan Agustus yakni sebesar 1,04% secara year on year (yoy). Padahal, di bulan Juni tumbuh 1,4% yoy, dan Juli tumbuh 1,53% yoy.

Penurunan nilai kredit dan pertumbuhan kredit ini menunjukkan lemahnya permintaan, baik di sektor korporasi maupun rumah tangga. "Dan juga segmen konsumsi sejalan dengan masih lemahnya daya beli masyarakat untuk kredit ruko, furniture, dan elektronik rumah tangga, dan kredit kendaraan bermotor terus mengalami penurunan pertumbuhan kredit," tutur Wimboh.

Hal itu berdampak pada likuiditas perbankan dengan kondisi loan to deposite ratio (LDR) perbankan hingga Agustus 2020 yang terus mengalami peningkatan yaitu berada pada posisi 85,11%. Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh di level tinggi sebesar 11,64% yoy. "LDR sudah di bawah 90%, angka terakhir 85,11% karena tadi in-line bahwa pertumbuhan kredit masih terjadi kontraksi," ujar Wimboh.

Selanjutnya
Halaman
1 2