BRIS Ikut Merger Bank Syariah Bareng BSM dan BNI Syariah, Apa Efeknya?

Rosmha Widiyani - detikFinance
Rabu, 14 Okt 2020 14:42 WIB
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk kembali menyuntikkan modal sebesar Rp 500 miliar ke BRI Syariah untuk memacu pertumbuhan bisnis. Modal disetor BRI Syariah saat ini sebesar Rp1,47 triliun atau naik dari posisi sebelumnya Rp979 miliar. File/detikFoto.
Foto: Rachman Haryanto/BRIS Ikut Merger Bank Syariah Bareng BSM dan BNI Syariah, Apa Efeknya?
Jakarta -

Merger bank syariah yang dilakukan BRIS atau PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri menjadi perhatian. BRIS bahkan menjadi salah satu topik di Google Trend Visualizer dilihat detikcom pada Rabu (14/10/2020).

Kabar merger bank syariah yang nantinya disebut Bank Amanah tersebut berdampak pada harga saham perusahaan. Dikutip dari CNBC Indonesia, harga saham BRIS meningkat hingga 25 persen di posisi Rp 1.125 per saham pada penutupan Selasa (13/10/2020) pukul 15.00 WIB.

Saham BRIS terus naik hingga 33,14 persen selama lima hari terakhir yang dihitung sejak pekan lalu. Kenaikan saham BRIS juga terjadi pada satu dan tiga bulan terakhir sebesar 25 serta 156 persen.

Total kenaikan saham BRIS selama 6 bulan terakhir bahkan mencapai 498,40% dengan kapitalisasi pasar Rp 10,93 triliun. Dalam merger bank syariah, BRIS akan menjadi survivor atau entitas yang menerima penggabungan bank lainnya.

Menurut analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi, merger bank syariah member dampak positif pada aset BRIS. Sebagai survivor, BRIS punya potensi terus berkembang dengan menerima pelimpahan aset dari dua bank syariah lain.

"Merger bank syariah ini sangat positif dari sisi aset, bisa dikatakan aset BRIS bukan yang terbesar tapi akan menerima aset cukup signifikan. Untuk aspek mature produk, produk-produk bank syariah bisa dikatakan lebih tahan krisis dan lebih diuntungkan saat tren suku bunga rendah," kata Wafi.

Sekjen MUI yang juga ahli ekonomi Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Anwar Abbas mengingatkan, merger bank syariah harus memberi banyak manfaat bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Jangan sampai merger hanya bertujuan mencari untung dan lebih banyak mengucurkan kredit dan pembiayaan bagi usaha besar.

"Untuk apa kita punya bank syariah yang besar dan berkelas dunia, kalau akibat dari penggabungan atau merger tersebut yang untung hanya usaha besar. Sementara UMKM semakin tidak mendapat perhatian, lalu timbul pertanyaan bank mana lagi di negeri ini yang akan memikirkan nasib usaha kecil dan rakyat banyak," ujar Anwar dalam pesan yang diterima detikcom.

Sebagai gambaran, menurut Anwar saat ini usaha besar jumlahnya hanya 0,01 persen sebanyak 5.550 unit usaha dan tenaga kerja 3,5 juta. Sedangkan jumlah UMKM mencapai 99,99 persen sebanyak 64,2 juta unit usaha dengan total tenaga kerja 117 juta. Merger bank syariah jangan sampai hanya menguntungkan salah satu pihak dan melupakan pendukung ekonomi lainnya.

Karena itu, Anwar mengusulkan total pembiayaan merger bank syariah mencapai 70-80 persen sedangkan usaha besar hanya 20-30 persen. Dengan komposisi ini, merger bank syariah bisa berkontribusi besar bagi kekuatan dan keadilan ekonomi di Indonesia.

(row/erd)