Nggak Semua MLM 'Nakal', Kenali Ciri-cirinya di Sini

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 26 Okt 2020 11:33 WIB
ilustrasi investasi
Foto: shutterstock
Jakarta -

Tak dapat dipungkiri bahwa bisnis MLM terkadang dipandang sebelah mata karena sudah banyak terungkap kasus penipuan berkedok MLM. Tentu saja penipuan tersebut merugikan masyarakat sehingga semakin waspada terhadap model bisnis tersebut.

Namun, menurut pakar pemasaran Yuswohady tidak semua bisnis MLM nakal. Ada juga yang memang benar-benar dapat memberikan keuntungan kepada 'downline', julukan buat orang rekrutan yang menjual produk MLM.

Untuk membedakan MLM yang murni bisnis dengan yang bandel, dijelaskan Yuswohady bisa dilihat dari brand-nya.

"Pembedanya adalah brand, karena memang saya kira bisnis MLM kan sudah lama ya dan konsumen itu atau downline atau para MLM marketer itu sudah mulai ngerti mekanisme MLM kayak apa. Apa yang membedakan bagus atau nggak bagus itu akan ditentukan kekuatan brand," kata dia saat dihubungi detikcom, Senin (26/10/2020).

Dia menjelaskan semakin besar brand, apalagi sudah berkecimpung sejak lama maka lebih mudah untuk dipercaya ketimbang brand baru.

"Jadi nanti otomatis yang akan mendapatkan trust, mendapatkan kepercayaan adalah MLM-MLM yang sudah mempunyai brand kuat, kalau yang baru otomatis akan straggling karena konsumen Indonesia sudah semakin melek sehingga nanti brand lah yang menentukan apakah suatu MLM itu lebih dipercaya atau nggak," sebutnya.

Masyarakat juga perlu melakukan kroscek. MLM yang terpercaya seharusnya memiliki website yang jelas.

"Jadi ketika dia ditawari untuk menjadi downline misalnya maka dengan mudah dia akan cek, ini bonafiditasnya gampang sekali dicek. Satu organisasi nggak punya website kan berarti ketahuan lah ini pasti (patut diwaspadai) iya," ujarnya.

Jika bisnis MLM menawarkan insentif yang besar dan cenderung tidak rasional, itu pun patut diwaspadai. Dia menjelaskan brand yang kuat biasanya memberikan insentif lebih kecil karena sudah memiliki kekuatan dari sisi kepercayaan. "Biasanya yang nggak bener-nggak bener itu biasanya insentifnya gede," tambahnya.

(toy/fdl)