Benarkah Bank Tahan Penyaluran Kredit? Ini Kata Bos BCA

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 26 Okt 2020 18:05 WIB
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja

Jahja Setiaatmadja (59 tahun) menjabat sebagai Presiden Direktur BCA sejak tanggal 17 Juni 2011. Beliau bertanggung jawab atas Koordinasi Umum serta membawahi Divisi Audit InternaI dan Sekretariat Perusahaan. Sebelumnya beIiau menjabat sebagai WakiI Presiden Direktur BCA (2005-2011) dengan tanggung jawab terakhir atas bisnis Perbankan Cabang, Divisi Tresuri, Divisi Perbankan Internasional, dan kantor-kantor perwakilan di Iuar negeri. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur BCA (1999-2005) serta memangku berbagai jabatan manajerial di BCA sejak tahun 1990. Sebelum bergabung dengan BCA, beliau menjabat sebagai Direktur Keuangan pada perusahaan otomotif Indonesia terkemuka, Indomobil (1989  1990). Beliau memangku berbagai jabatan manajerial pada perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, Kalbe Farma (1 980  1989) dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Keuangan. Beliau memulai karir di tahun 1979 sebagai akuntan pada perusahaan akuntan (PriceWaterhouse). Beliau memperoleh gelar sarjana daIam bidang Akuntansi dari Universitas Indonesia.
Presdir BCA Jahja Setiaatmadja/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

PT Bank Central Asia Tbk atau BCA menyalurkan kredit Rp 581,9 triliun hingga September. Penyaluran kredit ini turun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 0,6% yoy.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, kondisi ini bukan berarti bank enggan menyalurkan kredit. Bank terus menyalurkan kredit, namun sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

"Dari sisi bank apakah tidak mau melepas kredit? Tidak, tidak benar sekali. Bank akan berusaha berupaya terus mencari kesempatan apakah nasabah membutuhkan kredit atau tidak tetapi tentunya harus sesuai kriteria yang ditentukan bank," katanya dalam paparan kinerja BCA, Senin (26/10/2020).

Jahja melanjutkan, setiap bulan bank akan terus menyalurkan kredit baru. Menurutnya, jika bisnis sedang lesu nasabah cenderung mengembalikan dananya dan tidak meminjam dalam jumlah yang besar.

"Itu menyebabkan apa yang terjadi setiap bulan bank lepas kredit baru, tapi kredit lama yang ada berkurang terus sesuai dengan penggunaan kredit. Kalau modal kerja lagi bisnis lesu, dia kembalikan uangnya buat apa dia pakai modal kerja besar-besar, kredit investasi tiap bulan wajib cicil, sehingga ini turun terus tapi bank harus tambah kredit terus, memberikan kredit baru," paparnya.

Menurut Jahja, hal inilah yang membedakan kondisi sekarang dan sebelum pandemi COVID-19. Sebelum COVID-19, ekonomi berkembang sehingga pertumbuhan kredit selalu positif.

"Itu yang terjadi kalau masa dulu sebelum COVID kredit baru yang dilepas oleh bank karena ekonomi berkembang pasti lebih tinggi sehingga growth-nya selalu positif," ujarnya.

"Jangan heran kalau dibilang, kredit negatif, bukan kita nggak mau lepas kredit karena yang dilepas lebih sedikit dari yang mereka bayar," sambungnya.

(acd/ara)