Bos OJK Sebut Vaksin Pfizer Bisa Bangkitkan Kembali Dunia Usaha

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 10 Nov 2020 13:22 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (tengah) bersama Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki (kanan) dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menghadiri Peluncuran Digital Kredit UMKM yang diselenggarakan oleh HIMBARA dan eCommerce di Jakarta, Jumat (17/7/2020). OJK dalam kebijakannya sangat mendukung pengembangan UMKM termasuk dalam masa pandemi COVID-19 dengan memberikan keringanan kredit perbankan dan pembiayaan kepada UMKM yang terdampak. ANTARA FOTO/Humas OJK/pras.
Foto: ANTARA FOTO/PRASETYO UTOMO
Jakarta -

Kehadiran vaksin COVID-19 oleh perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) Pfizer dan BioNTech (Jerman) memberikan harapan baru untuk global.

Menanggapi hal tersebut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan dengan adanya vaksin di tengah pandemi ini disebut akan mendorong kebangkitan dunia usaha yang saat ini masih terseok-seok.

Menurut dia, dengan adanya vaksin, penyelesaian masalah ini hanyalah masalah waktu. "Sehingga pengusaha tentu bisa lebih dini untuk antisipasi. Jangan sampai ketinggalan kereta, apalagi pengusaha menengah ke atas harus bisa bangkit kembali," kata dia dalam acara CNBC Indonesia, Selasa (10/11/2020).

Menurut dia kondisi sektor keuangan saat ini dalam kondisi baik. Likuiditas masih mampu menopang kebutuhan dunia usaha. "Vaksin juga akan membuat ekonomi tumbuh," jelas dia.

Memang vaksin COVID-19 besutan Pfizer dan BioNTech ini masih menjalani uji klinis fase III dan 90% efektif mencegah infeksi Corona. Kehadiran vaksin itu dipercaya dapat menjadi salah satu faktor utama untuk pemulihan kesehatan dan perekonomian dari dampak pandemi Corona.

Namun, ternyata perekonomian Negeri Paman Sam tak bisa pulih sepenuhnya jika hanya mengandalkan vaksin Corona. Dilansir dari CNN, vaksin butuh waktu berbulan-bulan untuk dapat didistribusikan dan disuntikkan pada warga AS.

Sementara itu, perekonomian masih terus berada dalam ambang tekanan. Oleh sebab itu, AS masih membutuhkan stimulus fiskal dan bantuan untuk masyarakat dalam menghadapi pandemi Corona.

(kil/fdl)