Peredaran Uang Naik di Oktober, Ini Alasannya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 30 Nov 2020 11:21 WIB
BUMN percetakan uang, Perum Peruri dibanjiri pesanan cetak uang dari Bank Indonesia (BI). Pihak Peruri mengaku sangat kewalahan untuk memenuhi pesanan uang dari BI yang mencapai miliaran lembar. Seorang petugas tampak merapihkan tumpukan uang di cash center Bank Negara Indonesia Pusat, kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (21/10/2013). (FOTO: Rachman Haryanto/detikFoto)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) meningkat pada Oktober 2020 terutama disebabkan oleh komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi. Selain itu uang kartal yang beredar di masyarakat juga naik karena adanya libur panjang yang terjadi pada Oktober lalu.

Data BI menyebut M2 pada Oktober 2020 tercatat Rp 6.780,8 triliun atau meningkat 12,5% year on year (yoy) lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 12,4% yoy.

"Peningkatan tersebut disebabkan pertumbuhan M1 sebesar 18% yoy didorong oleh peredaran uang kartal yang tinggi di masyarakat," tulis keterangan BI dikutip Senin (30/11/2020).

Selain itu pertumbuhan uang kuasi meningkat menjadi 10,7% dibandingkan periode bulan sebelumnya 10,6%. Sementara itu, surat berharga selain saham masih mengalami kontraksi meskipun membaik dari bulan sebelumnya menjadi -12,1%.

BI mencatat uang kartal di masyarakat yang berada di luar perbankan dan BI pada Oktober 2020 tercatat Rp 707,2 triliun atau tumbuh 15,8% dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan peredaran uang kartal ini seiring dengan peningkatan kebutuhan uang tunai saat libur panjang pada akhir Oktober 2020. Di sisi lain, giro rupiah tumbuh melambat dari 23,7% pada September 2020 menjadi 20,3%.

Sementara itu, dana float atau saldo uang elektronik yang diterbitkan bank kembali mengalami penurunan atau minus 0,7%. Padahal bulan sebelumnya tumbuh 0,5%.

Saldo uang elektronik yang diterbitkan bank pada Oktober 2020 tercatat Rp 2,4 triliun dengan pangsa 0,14% terhadap M1. Sementara itu posisi surat berharga selain saham tercatat membaik dari -13,9% yoy pada September 2020 menjadi 12,1%. Ini disebabkan oleh penurunan surat berharga yang dimiliki perusahaan keuangan selain bank dalam rupiah.

Ekspansi keuangan pemerintah juga memengaruhi uang beredar ini. Pada Oktober 2020 ini tagihan bersih kepada pemerintah pusat tercatat 81,6% dibandingkan periode bulan sebelumnya 76,7%.

(kil/zlf)