Waspada! Praktik Investasi Bodong Berkedok MLM Masih Mengintai

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 12 Des 2020 19:45 WIB
Investasi Bodong
Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari
Jakarta -

Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) berupaya melakukan pemberantasan praktik investasi bodong menggunakan nama penjualan langsung atau direct selling atau multilevel marketing (MLM).

Ketua Asosiasi penjualan langsung Indonesia (APLI) Kany V Soemantoro mengungkapkan akibat praktik-praktik tidak bertanggung jawab itu industri penjualan langsung dianggap merugikan oleh masyarakat.

Hal ini karena maraknya praktik penipuan berkedok investasi, tabungan, arisan, investasi emas.

"Banyak yang beroperasi menggunakan nama penjualan langsung atau multilevel marketing. APLI dan stakeholder terus berupaya memberantas praktik ilegal tersebut," ujar dia dalam keterangannya, Sabtu (12/12/2020).

Kany mengungkapkan money game di Indonesia memang harus diwaspadai dan diberantas. Satuan tugas waspada investasi menyebutkan money game ini masih marak di masyarakat.

Misalnya menyamar menjadi koperasi, MLM gadungan hingga bisnis emas. Padahal selama pandemi mengungkapkan industri direct selling pandemi masih mencatatkan peningkatan.

Kany menyebutkan industri ini masih memberikan income ke negara sebesar Rp 14,7 triliun, terakhir telah mencapai Rp 16,3 triliun. Dia mengungkapkan industri ini justru bertahan di tengah pandemi.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menyebutkan hal ini terus berulang. Karena itu dibutuhkan edukasi kepada masyarakat agar terlindungi dari kejahatan berkedok investasi atau lebih menyadari konsekuensi dan risiko jika dihadapkan pada tawaran yang memberi imbalan di luar batas kewajaran.

Satgas menyebutkan ciri-ciri perusahaan direct selling/multi level marketing (MLM) yang benar adalah memiliki produk untuk dijual atau produknya jelas.

Bonus aktif diperoleh dari penjualan produk. Lalu bonus pasif diperoleh dari omset penjualan, pembelian produk grup atau jaringan. Selanjutnya pay out bonus marketing plan tidak boleh lebih dari 40%, selanjutnya ada pendampingan & pelatihan untuk anggota atau member dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM. Terakhir perusahaan memiliki izin yang sesuai dalam hal ini memiliki SIUPL.

Sedangkan untuk money game tidak ada produk yang dijual. Bila adapun, dijual dengan harga yang tidak sesuai (over price). Fungsinya sebagai "tempelan kedok bisnisnya".

Bonus aktif diperoleh dari perekrutan (member get member dapat bonus). Kemudian bonus pasif diperoleh berdasarkan persentase nilai investasi yang ditanamkan. Selanjutnya pay out hasil bonus keuntungan tidak masuk akal (Contoh: 1 minggu 10%, 3 minggu 20%)

Selain itu member boleh memiliki lebih dari satu akun (bergabung berkali-kali). Terakhir perusahaan tidak memiliki izin yang sesuai (dalam hal ini tidak memiliki SIUPL).

(kil/eds)