Harga Bitcoin Mulai Goyah, Tengok 3 Faktanya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 13 Jan 2021 19:30 WIB
Bitcoin Melambung Di Atas 20 Ribu Dolar, Bakal Jadi Incaran Investor Awam?
Foto: DW (News)
Jakarta -

Nilai tukar Bitcoin mulai mengalami penurunan tajam. Harganya kini anjlok lebih dari 20% pada hari Senin. Harganya turun ke level US$ 31 ribu atau sekitar Rp 434 juta (kurs Rp 14 ribu/US$) per keping.

Padahal, di hari Jumat lalu harga Bitcoin meroket. Bahkan menyentuh level tertinggi baru di angka US$ 42 ribu atau sekitar Rp 588 juta per keping.

Bitcoin memang mengalami kenaikan yang signifikan selama beberapa bulan terakhir. Namun, agaknya kekuatan Bitcoin mulai goyang dan justru malah anjlok. Simak 3 faktanya.

1. Menimbulkan Kekhawatiran di Wall Street

Penurunan harga Bitcoin ini telah menyoroti bagaimana kenaikan yang menakjubkan sebelumnya telah meningkatkan peringatan bagi beberapa orang di Wall Street.

"Sangat menakutkan ketika harga Bitcoin langsung naik. Kemunduran ini saya rasa dibutuhkan," kata James Putra, wakil presiden strategi produk untuk TradeStation Crypto, dikutip dari CNN, Selasa (12/1/2021).

Seorang ahli strategi di Bank of America Naeem Aslam, mencatat bahwa lonjakan Bitcoin baru-baru ini tak lebih dari beberapa tren terkenal lainnya dalam beberapa dekade terakhir.

Misalnya, emas di tahun 70-an, teknologi dot-com di akhir 1990-an, dan perumahan di pertengahan 2000-an. Jadi penurunan dalam beberapa hari terakhir adalah koreksi sehat yang telah terjadi sejak lama.

Bitcoin pertama kali melampaui level US$ 20 ribuan pada pertengahan Desember dan melonjak di atas US$ 30 ribuan awal bulan ini. Aslam mengatakan dalam sebuah laporan bahwa Bitcoin mungkin akan jatuh ke level US$ 28-30 ribuan sebelum mencapai titik terendah.

2. Investasi Bitcoin Siap-siap Merugi

Otoritas keuangan di Inggris yaitu Financial Conduct Authority (FCA) mengingatkan investasi dalam bentuk mata uang kripto (cryptocurrency) macam Bitcoin memang harus siap rugi. Sebab, menurut FCA, investasi dan produk pinjaman yang terkait dengan uang kripto memiliki risiko yang sangat tinggi.

"FCA menyadari beberapa perusahaan menawarkan investasi dalam aset kripto, pinjaman atau investasi yang terkait dengan aset kripto yang menjanjikan pengembalian tinggi. Jika konsumen berinvestasi dalam jenis produk itu, mereka harus siap kehilangan semua uang mereka," ujar FCA dikutip dari CNBC, Senin (11/1/2021).

Harga Bitcoin yang melonjak ke rekor baru minggu lalu memang membuat investor semakin memandang aset digital sebagai lindung nilai terhadap inflasi, mirip dengan emas.

Tetapi kenaikan liar Bitcoin telah membuat beberapa orang memperingatkan bahwa itu bisa menjadi gelembung pasar yang kemungkinan akan segera meledak. Uang kripto paling berharga di dunia itu telah meroket lebih dari 300% dalam 12 bulan terakhir.

"Regulator jelas prihatin bahwa risiko tinggi yang sudah melekat dalam aset kripto diperparah oleh aktivitas penipuan, serta perusahaan yang tidak diatur yang menargetkan konsumen menyoroti imbalan, bukan potensi kerugian," kata Analis Keuangan di AJ Bell, Laith Khalaf.

3. Secercah Harapan buat Bitcoin

Meski begitu, Bitcoin pun masih dinilai memiliki masa depan yang baik. Apalagi dengan beberapa layanan pembayaran seperti digital Square (SQ) dan PayPal (PYPL) memungkinkan pengguna membeli dan menjualnya lewat platform mereka.

Daya tarik bertambah dengan terjunnya investor institusi top termasuk Paul Tudor Jones, Stanley Druckenmiller dan Anthony Scaramucci berinvestasi di dalamnya.

Meski Bitcoin harganya akan terus anjlok, namun saat ini nilainya masih tinggi dibanding setahun lalu. Bahkan dengan penurunan selama akhir pekan dan Senin, nilai Bitcoin masih terpantau melonjak sekitar 300% dalam 12 bulan terakhir.

(fdl/fdl)