Bank Mandiri Beberkan 3 Nasabah Biang Kerok Kredit Macet Naik

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 06 Feb 2021 16:07 WIB
Plaza Mandiri, Gedung Bank Mandiri Pusat
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Darmawan Junaidi buka-bukaan soal penyebab naiknya rasio kredit macet (Non Performing Loan/NPL). Untuk diketahui, NPL gross Bank Mandiri sepanjang 2020 tercatat naik menjadi 3,09% dari 2,33% secara konsolidasi.

Menurut Darmawan penyebab naiknya NPL perbankan karena ada 3 nasabah yang sejak sebelum pandemi sudah kesulitan membayar kreditnya. Namun, Darmawan enggan menyebut siapa-siapa saja nasabah yang dimaksud dan besaran kredit macet dari ketiganya.

"Sebetulnya kami dapat sampaikan tapi nanti secara tertutup, secara besaran saja, secara sektor itu memang ada terkait dengan, bukan sektornya bermasalah, tapi nasabah ini yang mungkin mendominasi sehingga ada 3 nasabah sebetulnya kami lakukan downgrade ke NPL di 2020 yang menyebabkan dia tumbuh," ujar Darmawan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (4/2/2021).


Menurut Darmawan, rasio NPL Bank Mandiri bisa lebih baik apabila tidak ada ketiga nasabah tersebut.

"Di luar yang 3 itu sebetulnya NPL kita mungkin lebih baik, kalau akhir tahun 2019 itu secara bank only 2,5%, kemudian NPL konsolidasi 2,33%, kita mungkin berada di kisaran 2,33% yang bank only," katanya

"Jadi nanti mungkin akan kami sampaikan informasi tambahkan secara tertutup, kenapa NPL kita di 3,09%," tambahnya.

Darmawan menegaskan Bank Mandiri sama sekali tidak memfasilitasi restrukturisasi kredit yang diamanatkan oleh POJK Nomor 48 /POJK.03/2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

Bank Mandiri hanya memberikan restrukturisasi kredit pada mereka yang terdampak pandemi COVID-19 dan tercatat sebagai nasabah yang sehat sebelum adanya pandemi.


"Untuk kriteria (nasabah) yang bisa dilakukan restrukturisasi, pertama nasabah tersebut memang selama ini sehat sebelum adanya pandemi. Kemudian juga track record baik. Dan ketiga memang, kita memang melihat nasabah ini mengalami kesulitan, karena dampak pandemi," tegas Darmawang.

"Nah untuk nasabah yang sebelum pandemi memang sudah mengalami kesulitan dan juga ada tunggakan memang tidak masuk dalam restrukturisasi," tutur Darmawan.

(hns/hns)