Suku Bunga Rendah Bisa Bikin Kredit Ngebut?

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 09 Feb 2021 15:18 WIB
Meski Bank Indonesia sudah memangkas bunga acuan, namun bunga kredit bank masih selangit
Foto: Infografis/Fuad Hasim/detikcom: Bunga bank selangit
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) meminta kepada seluruh industri perbankan tanah air untuk menindaklanjuti kebijakan suku bunga rendah agar menggeliatkan penyaluran kredit. Penyaluran kredit dianggap mampu memperecpat pemulihan ekonomi nasional.

Sepanjang 2020, BI sudah menurunkan BI7DRR hingga 125 basis poin (bps) menjadi 3,75% dari 5,00%. Permintaan bank sentral terkait merespon penurunan suku bunga kredit dikarenakan hingga Desember tahun lalu, Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) Modal Kerja tercatat turun 88 bps menjadi 8,88%, SBDK Investasi turun 102 bps menjadi 9,21%, SBDK Konsumsi turun 65 bps menjadi 10,97%.

BI menilai penurunan SBDK ini kurang cepat dibandingkan dengan suku bunga BI7DRR. Oleh karena itu, BI ingin menerbitkan aturan baru terkait publikasi asesmen suku bunga kredit berdasarkan SBDK dan spread SBDK. Diharapkan, hal ini dapat memperkuat pemahaman dunia usaha sehingga ujungnya akan mendorong bank bisa menurunkan suku bunga kredit masing-masing sesuai kondisinya.

Menanggapi itu Kepala Ekonom BRI Anton Hendranata mengatakan, industri perbankan sudah berusaha menurunkan suku bunga pinjamannya. Akan tetapi, penurunan ini memerlukan waktu sesuai dengan urutannya.

"Pertumbuhan kredit sudah lama turunnya bukan hanya 2020 saja, memang agak melambat penurunannya kreditnya. Ada hal yang ekstraordinary karena pandemi. Pada situasi pandemi permintaan lemah, daya beli masyarakat terbatas," ujarnya seperti yang dikutip, Selasa (9/2/2021).

Menurut dia, penurunan suku bunga kredit bukan menjadi faktor utama mendorong penyaluran kredit tanah air menggeliat. Dia menyebut, penyaluran kredit sangat bergantung pada tingkat konsumsi rumah tangga.

"Jika konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat tidak kuat maka tidak kuat mendorong penyaluran kredit meskipun perbankan sudah menurunkan suku bunga dan perbankan sudah menurunkan bunga," jelasnya.

Sementara ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah mengatakan, tidak menurunnya suku bunga kredit saat suku bunga acuan BI7DRR turun karena kurangnya transparansi pihak perbankan dalam menetapkan suku bunga kredit.

Piter mengatakan, seharusnya BI sudah sejak dahulu menganalisis penyebab tidak berjalannya transisi moneter khusus pada bunga kredit.

"Suku bunga adalah domain atau tugasnya BI. Rigiditas suku bunga menurut saya karena ada yang salah dalam operasi moneter BI," kata Piter.

"Sistem insentif yang diciptakan oleh operasi moneter BI membuat bank punya bargaining position yang besar terhadap nasabah kredit. Di sisi lain nasabah pemilik dana besar punya bargaining yang besar terhadap bank dan mampu menetapkan suku bunga. Jadi untuk menghilangkan rigiditas suku bunga kredit, BI menurut Saya perlu melakukan evaluasi terhadap operasi moneternya," tambahnya.

Saksikan juga 'Sri Mulyani Sebut Dunia Usaha Pingsan Gegara yang Kredit Makin Dikit':

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Bank Tawarkan Bunga Tinggi, Hati-hati Tak Dicover LPS"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/dna)