Jumlah Uang Beredar di RI Hampir Tembus Rp 7.000 Triliun

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 22 Jun 2021 12:21 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2021 sebesar Rp 6.994,9 triliun atau tumbuh 8,1% dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya 11,5%.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengungkapkan perlambatan ini terjadi karena mayoritas komponen uang beredar dan uang kuasi yang melambat.

"Pertumbuhan M1 pada Mei 2021 sebesar 12,6% kemudian uang kuasi tumbuh 6,8% pada Mei 2021," kata dia dalam keterangan resmi, Selasa (22/6/2021).

Selain itu perlambatan uang beredar dalam arti luar ini dipengaruhi oleh melambatnya aktiva luar negeri bersih. Faktor aktiva luar negeri bersih tumbuh 6,4% (yoy), melambat dibandingkan 10,7% (yoy) pada April 2021. Sementara itu, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh 61,4% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 45,0% (yoy).

Selain itu, pertumbuhan kredit tercatat -1,3% (yoy), meskipun terus menunjukkan perbaikan dibandingkan pertumbuhan Maret dan April 2021 masing-masing sebesar -3,7% (yoy) dan -2,4% (yoy).

Bank sentral juga mencatat dana pihak ketiga (DPK) per Mei 2021 tercatat Rp 6.588 triliun atau tumbuh 11,1%. Perlambatan DPK ini terjadi pada tabungan rupiah dan giro valas.

Lalu berdasarkan golongan nasabah, perlambatan giro serta tabungan terjadi pada nasabah perorangan. Di sisi lain, simpanan berjangka tercatat tumbuh meningkat sehingga menahan perlambatan DPK lebih dalam.

Sementara itu untuk kredit yang disalurkan perbankan pada Mei 2021 masih terkontraksi. Pertumbuhan kredit Rp 5.512 triliun -1,3% year on year. Angka ini lebih baik dibandingkan periode bulan sebelumnya yang -2,4%.

"Perbaikan kinerja kredit perbankan disebabkan oleh penyaluran kredit kepada debitur korporasi maupun perorangan," jelas dia.

Simak video 'Sri Mulyani Sebut Ekonomi Mulai Pulih Tapi Kasus Covid-19 Meroket':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/fdl)