Produk Lokal RI Bisa Mendunia, Begini Caranya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 10 Jul 2021 22:00 WIB
Siapa sangka nampan berbahan bambu bikinan, Mujimin, warga Kulon Progo ini diminati konsumen Belanda. Setiap bulannya ia bisa mengekspor hingga 4.000 buah.
Ilustrasi/Foto: Jalu Rahman Dewantara
Jakarta -

Ekspor merupakan salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional. Kegiatan ini bisa mendatangkan devisa bagi negara dan perlu dikembangkan secara terintegrasi mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Karena itu Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan berupaya mendorong ekspor melalui Pembiayaan Ekspor Nasional dalam bentuk pembiayaan, penjaminan, asuransi dan jasa konsultasi.

Untuk memaksimalkan kegiatan perdagangan dibutuhkan pengembangan kapasitas pelaku usaha agar bisa meningkatkan daya saing sehingga pelaku usaha mampu melakukan ekspor secara mandiri dengan produk berkualitas internasional.

Ada salah satu program Desa Devisa yang mengembangkan masyarakat atau komunitas. Program Desa Devisa memberi kesempatan bagi wilayah yang memiliki produk unggulan berorientasi ekspor untuk mengembangkan potensi secara ekonomi, sosial dan lingkungan bagi masyarakat.

Wilayah yang berpotensi untuk diberikan pendampingan dalam kegiatan Community Development akan dianalisa menggunakan key indicators dalam rangka klasifikasi kriteria dan parameter untuk mengukur kebutuhan dalam pengembangan menjadi "Desa Devisa".

Bersama Institut Pertanian Bogor yang merupakan salah satu anggota dari University Network for Indonesia Export Development (UNIED), LPEI mengkaji indikator untuk mengembangkan sebuah desa menjadi Desa Devisa, dengan mempertimbangkan sejumlah aspek yaitu produk, konsistensi dan keberlanjutan produksi, pemberdayaan masyarakat dan koordinasi antar pemangku kepentingan, produsen dan manajerial, infrastruktur dan sarana penunjang lain.

Program Desa Devisa ini selain meningkatkan kapasitas masyarakat daerah dan mengembangkan komoditas unggulan desa, program ini juga mendorong partisipasi masyarakat desa dalam rantai pasukan ekspor global baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat menghasilkan devisa dan berkontribusi kepada negara melalui kegiatan ekspor.

Corporate Secretary LPEI Agus Windiarto mengungkapkan saat ini LPEI telah berhasil membentuk dua Desa Devisa yaitu Desa Devisa Kakao di Jembrana, Bali dengan komoditas unggulan berupa biji kakao yang difermentasi dan Desa Devisa Kerajinan di Bantul, Yogyakarta dengan produk kerajinan ramah lingkungan.

Kedua Desa Devisa ini telah mendapatkan beragam pelatihan dan pendampingan secara berkesinambungan untuk peningkatan kualitas produknya, kapasitas produksinya, peningkatan SDM dan juga untuk mendapatkan sertifikasi guna meningkatkan harga jual.