Tiru China, Bank Sentral Eropa Mau Luncurkan Euro Digital 2026

Siti Fatimah - detikFinance
Kamis, 15 Jul 2021 09:10 WIB
Menghitung mata uang Euro
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Bank Sentral Eropa (ECB) mulai berupaya membuat mata uang euro versi digital. Hal itu dilakukan karena penggunaan uang tunai berkurang dan China pun mulai melakukan pengujian yuan digital.

Mengutip CNN, pada Rabu kemarin (14/7), Bank Sentral mengumumkan hasil investigasi selama dua tahun mengenai masalah utama mengenai desain dan distribusi euro digital dan menganalisa potensi dampak pasar. Hasilnya, mengenai peluncuran euro digital akan diumumkan pada waktu yang akan datang.

"Mengingat transformasi digital yang sedang berlangsung, yang berpotensi mengubah lanskap pembayaran dan bahkan seluruh sistem keuangan, bank sentral harus berani dan mengikuti laju perubahan," kata Fabio Panetta, anggota Dewan Eksekutif ECB, yang dikutip detikcom, Kamis (15/7/2021).

Lebih lanjut, pihaknya menyebut euro tidak akan menggantikan uang tunai, namun keduanya memiliki fungsi dengan cara yang hampir sama. Alih-alih membayar barang atau jasa dengan uang kertas, orang Eropa dapat menggunakan bentuk uang elektronik yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Eropa atau bank sentral nasional ke dompet digital.

Panetta mengatakan, bank sentral akan mulai mengembangkan euro digital setelah periode investigasi selesai. Dia menyebut, proses selanjutnya bisa memakan waktu sekitar tiga tahun. Artinya, Eropa bisa meluncurkan mata uang digital ini sekitar tahun 2026.

Di sisi lain, François Villeroy de Galhau selaku Gubernur Bank Sentral Prancis dalam pidatonya bulan lalu mengatakan, uang bank sentral bisa dikesampingkan, karena penggunaan uang tunai menurun, koin dan token digital baru muncul. Eropa mulai melihat euro digital lebih serius setelah Facebook (FB) meluncurkan rencana untuk membuat mata uang digital pada 2019.

Dia juga menekankan, China sudah lebih maju dengan yuan digitalnya yang sudah tersebar di beberapa kota di China. "Risikonya jelas bahwa Eropa akan kehilangan momentum tidak hanya dalam upayanya untuk memperkuat peran internasional euro, tetapi bahkan dalam melestarikannya. Tantangan di sini juga merupakan masalah geopolitik," sambung Villeroy.

Keputusan bank sentral untuk membuat euro digital nampaknya diragukan oleh beberapa ahli. Para ahli menganggap euro digital tidak terlalu dibutuhkan mengingat berapa banyak konsumen yang sudah melakukan transaksi menggunakan kartu kredit atau debit atau layanan pembayaran seluler. "Saya agak skeptis orang-orang sebenarnya membutuhkan ini," kata Grégory Claeys, seorang rekan senior di think tank Bruegel yang berbasis di Brussels.

(eds/eds)