Penduduk RI Mayoritas Muslim, tapi Literasi Keuangan Syariah Rendah

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 15 Jul 2021 11:15 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Foto: Dok. YouTube Setpres
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut literasi keuangan syariah di Indonesia masih rendah. Padahal mayoritas penduduknya adalah muslim. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menumbuhkan pasar modal syariah di dalam negeri.

"Pengembangan pasar modal di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam bentuk rendahnya tingkat literasi keuangan," kata dia dalam acara KNEKS, Kamis (15/7/2021).

Oleh karena itu, menurutnya edukasi dan meningkatkan literasi menjadi salah satu hal yang sangat penting. Terlebih, survei otoritas sektor keuangan tahun 2019 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 8,93%.

"Indeks literasi keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 8,93% meskipun Indonesia adalah negara yang mayoritas adalah muslim," sambung Sri Mulyani.

Tantangan lainnya adalah minimnya jumlah penerbitan sukuk atau surat utang syariah, terutama oleh sektor korporasi. Menurutnya korporasi di Indonesia masih perlu mendiversifikasikan sumber pendanaan investasinya.

"Ini adalah tantangan yang serius karena perusahaan untuk bisa menerbitkan instrumen sukuk atau obligasi tentu perlu membenahi tata kelola dan juga profitabilitas dari perusahaan," jelasnya.

"Kita juga perlu untuk terus mendiversifikasikan penerbitan sukuk korporasi dengan menerbitkan berbagai fitur-fitur yang makin menarik, sehingga minat investor baik di dalam negeri maupun luar negeri dapat terwadahi," lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Diharapkan ke depannya surat utang syariah menjadi salah satu sumber pendanaan bagi pembangunan sektor-sektor produktif yang bisa menjembatani permintaan terhadap dana investasi jangka panjang.

"Dan penawaran dari sisi investor Indonesia yang berbasis muslim sangat besar dan growing middle class," sebutnya.

Penerbitan sukuk yang berbasis proyek, lanjut dia juga memberikan alternatif pendanaan yang bisa memberikan kepastian. Melalui teknologi dan inovasi, terutama teknologi digital, dirinya percaya bahwa sukuk bakal mampu memberikan nilai lebih di pasar modal syariah dan akan memberikan peranan makin penting di dalam pembiayaan yang berbasiskan pada skala proyek mikro.

"Masyarakat juga ikut merasakan kepemilikannya terhadap proyek-proyek yang penting karena mereka merasa ikut mendanai," tuturnya.

"Situasi inklusif inilah yang kita ingin kita ciptakan melalui instrumen keuangan yaitu sukuk maupun instrumen lainnya," tambah Sri Mulyani.

(toy/ara)