Bos BCA Ungkap Biang Kerok Anjloknya Kredit Rumah dan Kendaraan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 30 Jul 2021 20:15 WIB
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menggelar seminar soal tantangan dan strategi digital branding. Hal itu disampaikan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Presiden Direktur Bank BCA Jahja Setiaatmadja buka-bukaan soal penyebab terkoreksinya salah satunya permintaan kredit dari KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) dan KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

Untuk KPR misalnya, dia mengatakan selama PPKM berlaku penjualan properti jadi sulit karena susahnya konsumen melalukan kunjungan fisik.

"Kenapa saat ini terhambat? Selama ini terhambat karena begini, misalnya KPD kan nggak mungkin nggak ke site ya," ungkap Jahja dalam acara webinar online bedah emiten BCA, Jumat (30/7/2021).

Dia mencontohkan konsumen yang ingin membeli apartemen tentu harus mendatangi tempatnya. Hal itu untuk memastikan agar properti yang dibeli sesuai dengan keinginannya.

"Misalnya, saya pernah beli apartemen di Bintaro, belum pernah ke site, begitu mau deal saya mau ke lokasi dulu. Pas ke site wah ada kuburan, nggak mau saya ganti. Itu contoh kalau properti itu nggak bisa transaksi fully digital," ungkap Jahja.

Belum lagi masalah surat-surat kepemilikan. Bila membeli properti maka harus mendatangi notaris untuk mengurus segala surat-surat kepemilikan, namun notaris tidak ada yang bisa melakukan tugasnya secara virtual.

"Kedua anda mesti ke notaris kan, harus dateng. Mereka nggak bisa virtual," kata Jahja.

Mengenai KKB, menurutnya pembatasan yang terjadi saat PPKM membuat mobil tak bisa dikirim dengan cepat. Kalaupun mau cepat harus menambah biaya, belum tentu konsumen mau. Meskipun, ada diskon PPN jika pembatasan masih berlaku akan kredit belum tentu meningkat.

"Soal KKB ini, memang PPN juga didiskon KKB ini kan, tapi ada batas waktu. Padahal banyak industri nggak tersedia. Angkut mobil juga kan susah PPKM pake trailer diberhentikan dia di jalan. Kalau mau cepat ngumpet-ngumpet harus cost mahal," kata Jahja.

Di sisi lain, dia yakin bila PPKM dilonggarkan kredit BCA akan meroket. Pasalnya, dia menjamin hanya Bank BCA yang berani menawarkan bunga kredit rendah.

"Usai PPKM ini akan meningkat, karena dari sisi bunga kita berani untuk rendah. KPR 3,8% per tahun, itu interest benar-benar real interest, kalau KKB kan flat rate 2-2,5%," ungkap Jahja.

Sebelumnya Jahja memprediksi dengan adanya PPKM yang ketat membuat perolehan kredit BCA bakal drop. Contohnya seperti KKB pada kuartal pertama sampai kedua memiliki kenaikan yang signifikan hingga menyentuh angka Rp 2 triliun. Namun di bulan Juli mungkin cuma Rp 1 triliunan saja perolehannya.

"Tetapi pada saat PPKM darurat kita juga harus mengakui angka Rp 2 triliun itu secara dramatis juga akan turun. Kita perkirakan pada bulan Juli ini sekitar Rp 1 triliun hingga Rp 1,2 triliun," Jahja dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (22/7/2021).

Sama halnya dengan pengajuan KPR, Jahja mengatakan, pada awal tahun pihaknya menerima 9.847 pengajuan aplikasi dengan total platform kredit sebesar Rp 14,8 triliun. Namun pada awal Juli turun drastis hanya sampai 1.540 aplikasi dengan nilai Rp 2,2 triliun.

Angka tersebut didapat dari program presale yang diadakan BCA. Dalam 20 hari terakhir, angka penurunan pengajuan KPR hanya terkumpul 654 aplikasi dengan nilai sekitar Rp1 triliun. Di bulan Juli mungkin cuma Rp 3-4 triliun perolehan kreditnya.

(das/das)