Laba Bersih BNI Naik 12,8% Jadi Rp 5 Triliun di Semester I 2021

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Senin, 06 Sep 2021 16:33 WIB
Gedung BNI
Foto: BNI
Jakarta -

PT Bank Negara Indonesia (Persero) mencetak kinerja solid di Semester I-2021 ini. Menurut Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini, perseroan menghasilkan laba operasional sebelum pencadangan (Pre-Provisioning Operating Profit/PPOP) yang terus tumbuh dalam 5 kuartal terakhir, yang mana pada Semester I-2021 mencapai Rp 16,1 triliun.

"PPOP yang solid ini didukung pertumbuhan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar 18,2% YoY atau mencapai Rp 19,3 triliun dan Fee Based Income (FIB) yang tumbuh hingga 19,2% YoY dari posisi Juni tahun lalu sebesar Rp 6,8 triliun," ujarnya dalam Public Expose, Senin (6/9/2021).

Dia juga mengungkapkan laba bersih BNI meningkat 12,8% secara YoY atau sebesar Rp 5,0 triliun pada Semester I-2021. Hal ini diikuti pondasi keuangan yang kuat dalam bentuk pencadangan sebesar 215,3%.

Pertumbuhan laba ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih dan pendapatan nonbunga perseroan. Tercatat, Pendapatan Bunga Bersih (NII) mencapai Rp 19,3 triliun tumbuh 18,2% secara YoY. Sementara pendapatan nonbunga BNI juga tumbuh meningkat 19,2% menjadi Rp 6,8 triliun.

"Pencapaian ini diperoleh dengan tidak mudah, di tengah situasi pandemi yang masih berlangsung dan masih berjalannya program restrukturisasi kredit bagi debitur yang bisnisnya terdampak pandemi. Namun dengan strategi yang tepat, perseroan dapat mempertahankan Net Interest Margin atau NIM pada kisaran 4,9%," jelasnya.

Lebih lanjut, total penyaluran kredit BNI yang disalurkan juga naik 4,5% YoY dibandingkan Juni tahun lalu. Hal ini lebih tinggi dari rata-rata total perbankan yang hanya mencatatkan pertumbuhan kredit 0,6%.

Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) dapat tumbuh sehat 4,5% YoY dengan fokus pada Giro dan Tabungan. Jika memperhitungkan pencadangan atau CKPN yang telah dibentuk secara prudent sejak tahun lalu, maka Net NPL hanya 0,9%.

Diketahui, total aset BNI saat ini itu juga tumbuh menjadi Rp 875,13 triliun. Angka ini meningkat 5% dibanding tahun sebelumnya atau YoY yang hanya sebesar Rp 833 triliun.

Pertumbuhan Digitalisasi Bisnis

Pada sisi lain, upaya BNI meningkatkan intensitas transformasi digital juga membuahkan hasil positif. Hingga Juni 2021, jumlah nasabah BNI Mobile Banking tumbuh pesat 57% YoY, atau mencapai 9,3 juta pengguna, dengan jumlah transaksi mencapai 203,6 juta transaksi atau tumbuh 54% YoY.

"Transaksi di BNI saat ini sudah didominasi jaringan e-channel dan hanya 2% yang dilakukan lewat kantor cabang. Dari transaksi e-channel ini, BNI memperoleh pendapatan fee hampir Rp 736 Miliar atau meningkat 9,8% secara YoY," ungkapnya.

"Diharapkan dengan pengembangan digital ekosistem BNI yang terus kami lakukan dapat mendukung terciptanya solusi keuangan nasabah secara end to end/ closed loops, baik secara Business to Business to Customer (B2B2C) sampai dengan Government to Business to Customer (G2B2C)," imbuhnya.

Selain itu, digitalisasi di sektor konsumer juga dilakukan BNI melalui bisnis Pay Later. BNI menyalurkan pinjaman atau kredit kepada pengguna
Shopee dan Traveloka yang memilih opsi pembayaran dengan cicilan saat melakukan transaksi di kedua e-commerce tersebut.

Diketahui, Pay Later yang merupakan bisnis consumer lending ini tengah booming di negara-negara lain seperti India, China dan Australia. Hingga Juli 2021, total portofolio Traveloka Pay Later mencapai Rp 47 miliar.

"Kualitasnya bagus dengan adanya back up asuransi kredit, sehingga risiko termitigasi. Inilah salah satu bentuk pengembangan yang menjadi mesin pertumbuhan bisnis BNI pada jangka panjang," jelasnya.

(prf/hns)