Untung atau Rugi Kalau RI Tinggalkan Dolar AS?

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 12 Sep 2021 21:29 WIB
Ilustrasi Dolar AS, Kurs
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Indonesia perlahan tapi pasti mengurangi ketergantungan transaksi internasional menggunakan dolar Amerika Serikat atau dolar AS. Hal itu dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai negara, menggunakan skema perjanjian Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) maupun Local Currency Settlement (LCS).

Gubernur Bank Indonesia (BI) saat dijabat oleh Agus Martowardojo menjelaskan ada beberapa manfaat atau benefit dari perjanjian LCS. Sementara itu jika transaksi perdagangan menggunakan dolar AS dinilai tidak efisien.

"Bisa mengurangi ketergantungan dolar AS, karena menggunakan mata uang lokal. Misalnya untuk rupiah ke ringgit bisa langsung dan tidak perlu membeli US$ dulu baru di konversi ke Ringgit," ujar Agus pada 11 Desember 2017 lalu.

Nanang Hendarsah saat menjabat Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, menjelaskan dengan kerja sama LCS maka biaya yang dikeluarkan bisa lebih murah.

"Biasanya kalau mau transaksi menggunakan Thailand Baht kan harus beli dolar AS dulu, kalau sekarang langsung beli kan spread-nya lebih kecil," ujar Nanang.

Selain itu, kerja sama tersebut dapat mendorong pengembangan pendalaman pasar keuangan, yakni mengurangi ketergantungan valuta asing (valas) dolar AS.

Bagaimana perjalanannya? Buka halaman selanjutnya.

ICW Beri Rapor Merah ke Polri, Kejagung dan KPK soal Penindakan Korupsi

[Gambas:Video 20detik]