Jangan Begini Ya! Ini 2 Tipe Orang Mudah Ditipu Investasi Bodong

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 30 Sep 2021 08:30 WIB
Jakarta -

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing mengatakan salah satu hal yang menjadi pupuk investasi bodong bisa tumbuh subur di Indonesia adalah tabiat masyarakatnya sendiri. Faktor utamanya karena masih ada masyarakat yang ingin jalan pintas untuk menjadi kaya.

Memang kalau dipikir-pikir lagi, sederet penipuan investasi yang sudah terbongkar memiliki modus-modus yang sangat aneh. Jika dipikir secara logika saja, mereka menawarkan imbal hasil dan metode investasi yang tidak masuk akal.

Pertanyaannya kenapa masih banyak masyarakat yang mudah terjerat penipuan investasi? Apakah ada semacam ilmu hipnotis yang digunakan pelaku?

Tongam tidak yakin hipnotis digunakan para pelaku. Menurutnya ada dua jenis masyarakat yang mudah dijerat penipuan investasi. Pertama sifat tamak yang mengaburkan rasionalitasnya.

"Kalau dibilang hipnotis nggak juga. Cuma mereka ini ada keinginan untuk mendapatkan penghasilan tambahan menguasai pikiran rasionalnya, mengalahkan rasionalitasnya," ucapnya dalam acara d'Mentor.

Jenis kedua adalah masyarakat yang sebenarnya tahu bahwa itu ada penipuan investasi, atau investasi bodong. Namun mereka masih mencari celah dan meyakini jika menjadi peserta yang pertama akan tetap mendapatkan keuntungan.

"Ada yang menyadari itu penawaran investasi ilegal, tapi dia berprinsip bahwa peserta pertama pasti diuntungkan dan yang dirugikan peserta terakhir setelah tidak ada peserta lainnya," ucapnya.

Jenis-jenis orang itulah yang membuat pelaku investasi ilegal terus bermunculan di Indonesia. Di sisi lain pelaku juga semakin diuntungkan dengan adanya perkembangan teknologi. Di era saat ini, membuat aplikasi ataupun situs web untuk melancarkan penipuan investasi sangat mudah dilakukan.

Tongam pun menjelaskan, untuk menghindari penipuan investasi cukup mempertimbangkan 2 L yakni legalitas dan logis.

Legalitas artinya memeriksa seluruh perizinan entitas tersebut. Sedangkan logis, mempertimbangkan apakah penawaran yang disajikan masuk akal atau tidak, baik itu imbal hasil maupun metode investasi yang dilakukannya.

(das/eds)