IMF Minta BI Setop Bantu Biayai APBN Akhir 2022, Kenapa?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 26 Jan 2022 15:18 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia, lgo bank indonesia, bi, gedung bank indonesia di Jakarta
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) merekomendasikan Bank Indonesia (BI) menyetop pembiayaan APBN di akhir tahun ini. IMF juga meminta BI membatasi pembelian obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) di pasar primer tahun ini.

IMF juga merekomendasikan BI untuk memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar dalam nilai tukar rupiah jika ekonomi dihadapkan dengan dampak negatif dari pengetatan moneter global.

"Tim IMF mendukung komitmen pihak berwenang untuk keluar dari pembiayaan anggaran pada akhir 2022, dan selanjutnya merekomendasikan untuk membatasi pembelian di pasar primer tahun ini," kata Kepala Tim Misi IMF Indonesia, Cheng Hoon Lim dikutip dari CNA, Rabu (26/1/2022).

Lim juga mengatakan bahwa saat ini Indonesia berada dalam posisi yang baik untuk menormalkan kebijakan dan langkah penyerapan likuiditas BI akan membantu mengantisipasi pengetatan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve.

"Ketika The Fed melakukan pengetatan, kami tidak bisa mengantisipasi arus modal yang keluar. Kami mengharapkan penyesuaian kebijakan moneter BI," tuturnya.

Terkait ancaman arus modal yang keluar, IMF menyarankan BI untuk harus menjaga ruang kebijakan moneternya dengan membiarkan rupiah menyerap guncangan terlebih dahulu.

Sebagai informasi, IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 menjadi 5,6% pada 2022, dari 5,9%.

Hal ini disebabkan oleh penyebaran varian Omicron dan pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat. Dana tersebut melihat pertumbuhan PDB sebesar 6% pada tahun 2023.

Lihat juga video 'IMF: Pandemi Covid-19 Memperburuk Kemiskinan':

[Gambas:Video 20detik]



(ara/ara)