Ketua Muhammadiyah Tolak Rencana BTN Syariah Gabung BSI, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

Ketua Muhammadiyah Tolak Rencana BTN Syariah Gabung BSI, Ini Alasannya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 08 Jun 2022 14:37 WIB
Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas (Foto: Iswahyudi / 20detik)
Jakarta -

Rencana penggabungan BTN Syariah dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) telah disampaikan oleh Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo pada raker dengan komisi V DPR RI.

Namun rencana ini menuai banyak kritik. Hal ini karena, jika penggabungan terjadi maka tak ada lagi fokus pada bank-bank syariah itu.

Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mulanya mengungkapkan bahwa dia juga pernah tak setuju dengan penggabungan 3 bank syariah yaitu BNI Syariah, BRI Syariah dan Bank Syariah Mandiri. Hal ini karena bank syariah sebaiknya fokus pada UMKM yang saat ini banyak di masyarakat.

"Saya adalah orang yang tidak setuju dengan di mergernya 3 bank syariah karena bagi saya bank syariah sebaiknya fokus kepada UMKM karena boleh dikatakan rakyat dan umat islam itu sangat banyak di UMKM," tegas dia kepada detikcom, Rabu (8/6/2022).

Sama halnya dengan hal tersebut, ia juga mengungkapkan penolakannya terhadap rencana penggabungan BTN Syariah ke BSI. Ia khawatir, nantinya masyarakat kelas bawah akan sulit mengakses KPR subsidi syariah bila BTN Syariah bergabung ke BSI.

"Bila BTN Syariah diakuisisi oleh BSI maka harapan kita untuk mendorong pengusaha kelas bawah yaitu usaha ultra mikro dan mikro untuk naik kelas ke kelas menengah tentu secara teoritis akan menjadi sulit karena BSI nya akan lebih bias kepada usaha besar dan menengah," jelas dia.

Anwar melanjutkan, semakin besar cakupan bank maka yang bisa menikmati hanya usaha besar juga. Sementara usaha kecil akan terpinggirkan apalagi untuk kategori mikro dan ultra mikro. Padahal saat ini jumlah pelaku usaha mikro dan ultra mikro sekitar 98,68% dari seluruh pelaku usaha.

Jadi yang akan digarap oleh bank-bank besar tersebut hanya sekitar 1,32 % dari total pelaku usaha yang ada di tanah air.

Menurut dia, hal ini tentu benar-benar tidak sehat bagi perkembangan perekonomian nasional karena dia tentu pasti akan mendorong bagi terciptanya kesenjangan sosial ekonomi yang semakin tajam. Untuk itu menurutnya tugas pemerintah itu adalah melindungi dan mensejahterakan rakyat.

Kemudian bank-bank syariah milik negara tersebut sebaiknya fokus kepada pemberdayaan usaha mikro dan kecil sementara bank-bank swasta yang ada biarlah mereka fokus kepada usaha besar dan menengah.

"Sehingga diharapkan struktur dunia usaha kita bisa kita ubah dari bentuk piramid menjadi bentuk seperti belah ketupat dimana kalau dalam bentuk piramid yang besar adalah di alas piramid atau di kelas bawah," tandas dia.

Lihat juga Video: Bank Syariah Indonesia Dobrak Pasar Timur Tengah

[Gambas:Video 20detik]



(kil/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT