ADVERTISEMENT

Jurus Ini Bisa Dipakai Buat Genjot Investasi di RI

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 18 Jul 2022 20:15 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Group CEO Standard Chartered Bank, Bill Winters mendorong terciptanya kemitraan publik dan swasta untuk memobilisasi keuangan dan menyalurkan dana. Hal ini bertujuan membiayai proyek transisi berkelanjutan di negara-negara berkembang.

Bill juga menyinggung pentingnya peran keuangan campuran (blended finance) dalam meningkatkan investasi. Hal itu disampaikannya dalam acara Sustainable Finance for Climate Transition yang diselenggarakan Kementerian Keuangan.

Blended finance adalah pendekatan penataan yang memungkinkan investor publik dan swasta dapat berinvestasi bersama meski punya tujuan yang berbeda. Bill menambahkan, keuangan campuran dapat mengatasi perbedaan antara risiko dugaan dan risiko riil, serta rasio risiko/imbalan yang buruk melalui modal lunak dan jaminan untuk pembangunan.

Berdasarkan laporan Just In Time yang dikeluarkan Standard Chartered, kesenjangan pendanaan di negara berkembang sangat besar, mencapai US$ 95 triliun. Namun ada peluang sebesar US$ 83 triliun untuk berinvestasi ke pasar negara berkembang melalui transisi yang adil.

Negara berkembang yang mendanai proses transisi akan merasakan dampak pada pendapatan masyarakat. Tanpa adanya dukungan, kemiskinan masyarakat di negara berkembang bisa meningkat US$ 2 triliun setiap tahunnya.

Dalam hal ini, negara-negara maju dianjurkan untuk membantu negara berkembang dalam hal pembiayaan. Di sinilah perlunya sebuah kemitraan pembiayaan antara sektor publik dan swasta. Bill memuji inisiatif pemerintah Indonesia dalam meluncurkan platform nasional untuk mekanisme transisi energi.

"Sangat menggembirakan melihat bagaimana komitmen bangsa-bangsa di dunia menuju transisi yang adil. Hal ini mencerminkan upaya menyalurkan dana ke tangan orang-orang yang akan mampu menghasilkan dampak terbesar, dan itu membutuhkan kemitraan publik dan swasta yang luar biasa besarnya," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (18/7/2022).

Menurutnya hal ini tidak hanya meningkatkan jumlah pendanaan sektor publik, tetapi juga mendapatkan efek katalitik yang jauh lebih tinggi melalui pembiayaan sektor swasta.

Bill menyebut dunia perbankan dapat terus memainkan peran. Menurutnya, Standard Chartered yang hadir di 59 wilayah di Asia, Afrika, dan Timur Tengah akan terus memainkan peranan kunci.

Selain itu, Standard Chartered mengumumkan komitmen net-zero tahun lalu, dengan menargetkan mencapai net-zero dalam kegiatan operasionalnya pada 2025. Komitmen itu juga berlaku untuk segi pembiayaan 2050, serta dalam memobilisasi US$ 300 miliar dalam keuangan hijau, dan upaya transisi di periode 2021 dan 2030.

Tahun lalu, Standard Chartered Indonesia berperan sebagai salah satu mitra pembiayaan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS) Cirata 145 MW di Jawa Barat. Proyek ini melistriki 50.000 rumah dan mengeluarkan 214.000 ton CO2.

Pembangkit listrik tenaga surya terapung ini direncanakan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Ini juga menjadi langkah Indonesia untuk mencapai target bauran energi berkelanjutan sebesar 23% pada tahun 2025.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT