Kuasa Hukum Kritik Status Tersangka Pemegang Saham WanaArtha

ADVERTISEMENT

Kuasa Hukum Kritik Status Tersangka Pemegang Saham WanaArtha

Tim detikFinance - detikFinance
Sabtu, 03 Sep 2022 10:20 WIB
Nasabah asuransi jiwa WanaArtha Life berdemo di PN Jakarta Pusat. Mereka memprotes dibekukannya Sub Rekening Efek (SRE) atas nama PT. AJAW.
Nasabah WanaArtha LifeFoto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pihak kuasa hukum tersangka kasus WanaArtha Life (WAL) buka suara soal persoalan yang membelit kliennya. Menurutnya penetapan status tersangka terhadap pemegang saham pengendali janggal.

"Apabila klien kami terdesak, terpepet, terinjak terus menerus, tentu kemampuannya untuk memperhatikan nasib nasabah menjadi terbatas atau terhalang," ujar Kuasa Hukum ketiga tersangka, Fajri Yusuf dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (3/9/2022).

Fajri menekankan, pemegang saham selama ini mendukung penuh setiap pemeriksaan pihak Kepolisian demi mendapatkan para pelaku di kasus ini, yakni direksi lama dan manajemen lama WAL.

Sayangnya, upaya untuk mempertanyakan ini kepada hakim tunggal praperadilan untuk membatalkan penetapan tersangka oleh Bareskrim Polri harus menunggu lebih lama. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri tidak hadir dalam persidangan praperadilan awal pekan ini.

"Persidangan praperadilan yang diajukan oleh klien kami selaku pemohon ditunda selama satu minggu ke depan. Dikarenakan pihak termohon dalam hal ini Bareskrim tidak hadir pada persidangan, maka hakim tunggal memutuskan untuk melakukan pemanggilan ulang kepada termohon untuk hadir pada persidangan berikutnya," jelasnya lagi.

Manfred Armin Pietruschka dan Evelina Larasati Fadil, diterangkan Fajri, merupakan pemegang saham pada PT Fadent Consolidated Companies, salah satu pemegang saham di WAL. Sementara satu tersangka lainnya yakni Rezananta Pietruschka bekerja di bagian marketing WAL.

"Dugaan tindak pidana tersebut memang benar terjadi di bawah pengawasan klien kami selaku komisaris dan pemegang saham. Namun karena (pemegang saham.red) percaya buta dengan direksi dan manajemennya, maka terjadilah semua ini," ucapnya.

Selain itu, pemegang saham juga sudah melakukan penggantian seluruh susunan direksi dan manajemen. Dengan begitu,kata Fajri, WAL telah bersih dari manajemen lama yang diduga melakukan rangkaian dugaan tindak pidana perasuransian sebagaimana dilaporkan oleh para nasabah ke Bareskrim Polri.

"Yang saat ini klien kami lakukan, selain mempertahankan nama baik Wanaartha yang sudah berdiri sejak lama, juga memperhatikan nasib para pemegang polis/ nasabah tentunya," terang Fajri.

Terhadap upaya hukum ini, sejumlah pemegang polis menegaskan dukungan. "Dengan menempuh langkah ini (praperadilan), berarti ada keyakinan owner bahwa dirinya tidak bersalah dan benar-benar ingin melakukan upaya-upaya mengembalikan simpanan kami. Itu tabungan keluarga saya. Kami simpan bertahun-tahun. Saat ini bahkan tidak bisa saya pakai untuk berobat," ucap salah satu pemegang polis, Shanty.

Shanty khawatir bila penetapan tersangka pemegang saham berlanjut, maka akan membuat semua upaya pengembalian dana ke nasabah akan deadlock. "Saya tetap berusaha berpikir asas praduga tak bersalah. Semoga semua upaya hukum bisa menunjukkan kebenaran pada akhirnya," kata dia berharap.

Pemegang polis lainnya, Fransesca Lie mengungkapkan keheranannya pemegang saham justru ditetapkan sebagai tersangka. Terlebih, perusahaan dan para tersangka dikenalnya memiliki track record baik.

Dia khawatir hal ini akan mengganggu proses restrukturisasi bagi nasabah WAL akan terganggu bila pemegang saham konsentrasinya juga terganggu.

"Track record perusahaan ini bukan setahun dua tahun, sudah 48 tahun dan Bu Evelina pernah menjabat Ketua AAJI. Kita berharap Bu Evelina memenangkan praperadilan agar bisa mengurusi kembali perusahaannya," harapnya.

(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT