ADVERTISEMENT

Beda Bunga Tabungan vs Kredit Seperti Bumi dan Langit

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 12 Sep 2022 19:00 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bunga bank kini berada di level yang rendah. Apalagi untuk bunga tabungan dan bunga deposito.

Untuk bunga kredit, meskipun sudah turun tapi tetap tinggi dan bagaikan langit dan bumi dengan bunga tabungan. Ada beberapa hal yang membuat suku bunga kredit ini susah turun jika dibandingkan dengan bunga tabungan.

Kalangan ekonom menyebutkan ada anomali pada sistem keuangan di Indonesia. Selain itu beragamnya penetapan bunga kepada nasabah hingga adanya interest rate rigidity juga menyebabkan sulitnya bunga kredit turun.

Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan jika saat ini di Indonesia mengalami fenomena sulit turunnya bunga kredit karena ada beberapa faktor salah satunya teori interest rate rigidity.

"Jadi ketika BI beberapa tahun terakhir melakukan penurunan bunga acuan, itu respons suku bunga kredit perbankan sangat lambat," kata dia, Senin (12/9/2022).

Interest rate rigidity artinya ada kekakuan dari bank untuk mengikuti arah dari penurunan suku bunga acuan. Bhima menjelaskan, kedua yang lebih krusial lagi bank memperhatikan beban operasional terutama bank bank buku II atau I yang modalnya kecil.

Ketiga, bank saat ini masih melihat tingkat risiko bank dengan kompensasi bunga kredit yang mahal karena ada kekhawatiran setelah restrukturisasi akan terjadi kenaikan risiko kredit macet (non-performing loan/NPL).

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan memang ini adalah anomali pada sistem keuangan Indonesia. Namun, di Indonesia sendiri bunga kredit dan simpanan di bank sangat beragam.

Besaran bunga akan berbeda untuk setiap orang, tak bisa disamaratakan. Perbedaan juga tergantung dari jenis simpanan, produk maupun jenis kredit.

Di pasar kredit, suku bunga kredit menunjukkan penurunan 53 bps pada periode yang sama menjadi 8,94%. Dari sisi permintaan, peningkatan intermediasi ditopang oleh pemulihan kinerja korporasi yang terus berlanjut, tercermin dari tingkat penjualan dan belanja modal yang tetap tumbuh tinggi, terutama di sektor pertanian, pertambangan, industri, dan perdagangan.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT