ADVERTISEMENT

Corona Belum Kelar, OJK Mau Perpanjang Restrukturisasi Utang Nggak?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 13 Sep 2022 17:26 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar (Andhika Prasetia/detikcom)
Foto: Ketua OJK Mahendra Siregar/(Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih menimbang-nimbang perpanjangan restrukturisasi kredit. Program ini telah bergulir sejak pandemi COVID-19 mulai berkecamuk.

Terakhir, program ini diperpanjang beberapa kali hingga sekarang paling lama program ini akan selesai pada Maret 2023. Lalu, apakah OJK akan memperpanjang kembali program ini?

Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Ogi Prastimiyono mengatakan sejauh ini belum ada keputusan soal perpanjangan restrukturisasi kredit. Namun menurutnya sejauh ini tingkat risiko pembiayaan kredit (non performing financing/NPF) sudah makin membaik.

"Restrukturisasi, kalau liat NPF itu turun artinya itu sudah membaik. Tinggal relaksasi mau diapakan," ungkap Ogi dalam konferensi pers di Gedung OJK Infinity, bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (13/9/2022).

Profil risiko Perusahaan Pembiayaan pada Juli 2022 masih terjaga dengan rasio NPF tercatat turun sebesar 2,72%. Ogi mengatakan pihaknya akan mengumumkan apabila sudah ada kepastian soal kebijakan tersebut.

"Apakah dicabut atau diperpanjang atau gimana? Tunggu saja dulu. Kalau sudah dekat-dekat kami akan umumkan dari OJK," sebut Ogi.

Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2B OJK, Bambang W. Budiawan menambahkan pihaknya memang sedang mengkaji potensi perpanjangan kebijakan. Dia mengatakan pro dan kontra soal perpanjangan restrukturisasi akan diperhatikan oleh OJK.

"Ke depan kami sedang mengkaji potensi perpanjangan kebijakan, kita liat dari sisi funding perusahaan pembiayaan dari perbankan, kalau mereka restruk maka multifinance juga restrukturisasi," ungkap Bambang dalam acara yang sama.

Menurutnya, dari pihak industri keuangan juga sudah melihat akan perbaikan ekonomi hingga akhir tahun. "Dibilang perlu atau tidak, kalau dari anggota industri lihat gejala baik dengan minat ekonomi di semester 2 keliatan membaik," sebutnya.

Namun, kebijakan relaksasi tetap harus dipertimbangkan demi membantu perekonomian masyarakat. Bila ada relaksasi pertumbuhan dari industri pembiayaan meningkat. Tapi apabila terus diperpanjang, akan ada masalah baru muncul.

"Exposure pembiayaan akan tumbuh positif, dan kita lihat kalau diperpanjang ini dampaknya bagaimana. Apa potensinya? Bisa berdampak berkepanjangan dan tidak baik bagi perusahaan atau tidak," kata Bambang.



Simak Video "Fenomena Kredit macet Pinjol, SWI: Ya Harus Bayar!"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT