Suku Bunga BI Naik, Siap-siap Cicilan Makin Mahal!

ADVERTISEMENT

Suku Bunga BI Naik, Siap-siap Cicilan Makin Mahal!

Ilyas Fadhillah - detikFinance
Jumat, 23 Sep 2022 06:51 WIB
ilustrasi THR
Foto: Dok.Detikcom

2. Cicilan UMKM Makin Mencekik
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan BI ini sebagai respons atas inflasi yang cenderung tinggi dan dikhawatirkan mempengaruhi daya beli masyarakat. Lanjutnya, dampaknya kepada masyarakat termasuk kepada UMKM juga akan dipengaruhi oleh likuiditas dan risiko kredit perbankan.

"Jadi dua itu yang akan mempengaruhi karena masing-masing bank memiliki kecepatan yang berbeda-beda atau kondisi-kondisi berbeda. Artinya penyesuaian suku bunga juga akan berbeda-beda masing-masing bank," katanya kepada detikcom, Kamis (22/9/2022).

"Kenaikan suku bunga perbankan khususnya suku bunga kredit tentunya akan mulai terlihat, terindikasi di tahun depan. Jadi awal-awal tahun depan baru mulai dampak paling tidak semester 1 kelihatan," jelasnya.

Dengan demikian, kata dia, suku bunga kredit UMKM akan lebih mahal. Namun, itu juga tergantung pada risiko calon debiturnya.

"Betul, kredit baru akan lebih mahal, karena penyesuaian kan. Bergantung lagi dalam hal pengajuan kredit, masing-masing bank analisis kredit bisa berbeda calon debiturnya," ujarnya.

Sementara, Bhima Yudhistira mengatakan, selama ini UMKM telah mengeluhkan bunga bank mahal. Adanya kenaikan suku bunga acuan BI ini membuat bunga bank tambah mahal.

"Bagi pelaku usaha UMKM sebelum bunga acuan naik sudah mengeluh bunga bank mahal, tentu di luar dari subsidi bunga KUR. Setelah naiknya bunga acuan secara agresif maka bunga pinjaman nasabah UMKM akan naik cukup tajam," ujarnya.

3. Cicilan Rumah Makin Mahal
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, langkah ini merupakan respon BI terhadap potensi melonjaknya inflasi. Meskipun, kebijakan ini bisa berdampak negatif ke kalangan bawah.

"Yang punya cicilan rumah, cicilan motor jadi lebih mahal cicilannya karena bunganya lebih tinggi. Padahal dari sisi demand-nya sudah juga terkoreksi karena ada inflasi, harga barang mahal, biaya hidup sudah mahal, mencicil di bank juga bakal lebih mahal," katanya.

Naiknya suku bunga acuan akan direspon dengan naiknya suku bunga kredit. Biaya kredit ke perbankan jadi lebih mahal, membuat penyaluran kredit ke sektor riil terhambat.

Padahal menurut Faisal, kredit perbankan saat suda menyentuh double digit di atas 10%. Kalau suku bunga acuan naik ini bisa menurunkan kembali penyaluran kredit hingga menahan laju perputaran roda ekonomi. Alhasil masyarakat bawah juga lah yang akan terdampak.

"Nah ini yang perlu diwaspadai, karena dalam kondisi ini kan perlu ada insentif-insentif yang diberikan, terutama masyarakat terdampak yaitu kalangan bawah," katanya menambahkan.

Untuk itu Faisal meminta pemerintah mengoptimalkan program bantuan sosial yang ada. Sebab selama ini ketepatan dan kecepatan penyaluran bansos seperti BLT atau BSU dianggap kurang optimal.



Simak Video "Poundsterling Terjun Bebas ke Level Terlemah Dalam 37 Tahun Terakhir"
[Gambas:Video 20detik]

(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT