Hujan membasahi Kota Rempah, Ternate, dengan intensitas yang cukup lebat. Sesekali gerimis, tetapi tak lama kemudian semakin kencang dan lebat lagi. Awan dan kabut nampak berbaur, membuat pemandangan pagi itu terlihat muram berwarna abu-abu.
Setelah menempuh perjalanan udara dari Jakarta, Yuliawati, jurnalis Katadata yang ditunjuk oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai duta literasi keuangan, menginjakkan kaki di Ternate, Maluku Utara, pada Selasa (27/8). Ia ditugaskan untuk memberikan edukasi soal keuangan kepada petani dan nelayan di Desa Luari, Tobelo Utara, Halmahera Utara.
Bersama tim OJK pusat dan daerah, Yuliawati masih harus menempuh perjalanan laut ke Pelabuhan Sofifi dari Ternate. Namun, saat itu cuaca sedang tidak mendukung. Hujan yang terus-terusan mengguyur, membuat rencana naik speedboat dari Pelabuhan Armada Semut Mangga Dua, terpaksa dibatalkan karena ombak dan angin kencang. Padahal ini adalah cara tercepat untuk mencapai Pelabuhan Sofifi.
Tim literasi keuangan pun beralih ke Dermaga Ferry Bastiong. Jaraknya tak jauh dari pelabuhan sebelumnya. Hanya saja, waktu tempuh ke Sofifi yang tadinya bisa dicapai sekitar 45 menit, harus dilalui sekitar 2 jam menggunakan kapal ferry dan masih diiringi rintikan hujan.
Beruntung hujan tak berlanjut hingga Pelabuhan Sofifi. Yuliawati dan tim OJK bergegas menaiki mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Tobelo. Jarak tempuh dari Sofifi ke Desa Luari kurang lebih sekitar 190km.
Meski sepanjang perjalanan lebih sering dituntun oleh aspal yang mulus, medan yang dilalui terbilang menantang. Tim literasi keuangan masih harus menghadapi jalanan berkelok, menanjak dan menyusuri perkebunan, hutan, dan tepian pantai.
Dari terang hingga gelap, perjalanan dari Sofifi ditempuh sekitar 4 jam. Selama itu, tim literasi keuangan merasakan ngerinya perjalanan menuju Tobelo Utara dari Sofifi. Padahal sebelumnya telah merasakan terombang-ambing di atas kapal ferry.
"Saya berangkat dari Jakarta ke Ternate butuh waktu sekitar 3,5 jam, lalu lanjut kapal ferry 2 jam, lalu dari kapal ferry sempat terhenti lagi karena hujan besar. Lanjut jalur darat 4-5 jam. Jadi selama ini tahu lewat informasi, tapi baru kali ini mengalami betapa effort-nya ketika kita masuk ke wilayah 3T," ungkap Yuliawati kepada detikcom belum lama ini.
Setelah tiba di Tobelo Utara, esok paginya Yuliawati dan tim OJK memberikan edukasi kepada para petani dan nelayan dalam program Gencarkan yakni Gerakan Nasional Cerdas Keuangan. Yuliawati mengatakan memberikan pemahaman kepada masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) juga memiliki tantangan tersendiri. Sebab, diperlukan pemilihan kata dan penyederhanaan kata karena perbedaan cara berbahasa.
"Tantangannya itu gimana menggunakan bahasa yang mendekati pemahaman mereka, mendekati kosa kata mereka, itu tantangannya sih. Karena biasa hidup di perkotaan ketika diperdesaan bagaimana mencocokkan konteks, biar mereka juga paham. Terus membunyikan dengan kasus dan ilustrasi yang dekat dengan mereka," imbuh Yuliawati.
Adapun jarak tempuh dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Sultan Babullah Ternate sejauh kurang lebih 3,300km. Kemudian penyeberangan dari Ternate ke Sofifi sejauh kurang lebih 24km. Dari Sofifi ke Desa Luari menempuh jarak kurang lebih 190km. Sehingga jika ditotal, jarak tempuh tim literasi keuangan untuk tiba di Desa Luari, Kecamatan Tobelo Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara adalah sejauh kurang lebih 3.500km.
Panggilan Menjadi Duta Literasi
Yuliawati bercerita awal mula dipilih menjadi duta literasi keuangan. Pada Juni lalu dia menjadi salah satu jurnalis yang mendapatkan undangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendapatkan pembekalan materi terkait literasi keuangan. Pada awalnya, ia tak menyangka setelah mendapatkan serangkaian tes dan dinyatakan lulus, akan ditunjuk menjadi duta literasi keuangan.
"Kita waktu itu belum tahu soal duta literasi keuangan. Cuma taunya ini bakal seharian dikasih materi. Terus saya lihat ini materinya menarik nih, yaudah ikut kan. Terus di situ baru tahu, oh kita nanti dapat sertifikat segala macam. Nah, ada dikasih tes sama setelah seharian dikasih materi dites lagi," papar Yuliawati.
"Terus yang setelah lulus itu kita dapat sertifikat. Terus dijelasin, kita itu nanti berperan sebagai duta literasi keuangan. Ini sebenarnya pekerjaannya kayak relawan gitu ya, jadi selain bareng OJK ke wilayah 3T, kita itu diminta bikin kelas-kelas untuk mengisi literasi keuangan," imbuhnya.
Meski begitu, ia mengaku senang terpilih menjadi duta literasi keuangan OJK. Selain mendapatkan pengetahuan baru tentang literasi keuangan, ia bisa meningkatkan kemampuan diri.
"Kedua ternyata banyak masyarakat yang belum paham nih soal literasi keuangan. Hal yang sederhana kayak menabung (di bank) aja, di Desa Luari, mereka masih khawatir," jelas Yuliawati.
Di Desa Luari, Yuliawati memberikan pengetahuan tentang bagaimana cara mengelola keuangan dan memberikan pengenalan serta gambaran umum tentang kejahatan dan penipuan di sektor keuangan kepada petani dan nelayan. Ia juga mengajari bagaimana mereka untuk tetap waspada terhadap penipuan berkedok investasi. Ia berharap materi yang disampaikan dapat diterapkan oleh para petani dan nelayan.
"Mudah-mudahan ilmunya berguna, tapi kan pemberian materi sekali saja menurut saya kurang. Perlu juga mengubah perilaku kebiasaan, pola kehidupan sehari hari mereka. Setelah mengetahui dan paham, dan mengubah perilaku, mereka bisa berpikir jangka panjang sehingga kalau mereka punya dana lebih banyak, punya modal lebih banyak, mereka bisa mengubah hidup mereka jadi lebih baik," pungkasnya.
Untuk diketahui, program Gencarkan di Provinsi Maluku Utara telah terlaksana di seluruh 10 kabupaten/kota. Pelaksanaan di Desa Luari pada Kamis (28/8), menjadi penutup rangkaian Gencarkan di provinsi tersebut.
Pelaksanaan program Gencarkan di Desa Luari bekerja sama dengan PT Bank Negara Indonesia (BNI) beserta Bank Pembangunan Daerah Maluku Malut (BPD Maluku Malut).
Simak Video "Jangkau Daerah Terluar, OJK Bersama Media Perkuat Literasi Keuangan di Desa Geser"
(akn/ega)