Bank Indonesia (BI) turut berperan dalam menjaga stabilitas harga pangan domestik. Langkah ini dilakukan untuk menekan angka inflasi yang bersumber dari sektor pangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui inflasi secara tahunan mencapai 3,08% pada bulan Mei 2026. Kepala Departemen Regional BI, Rudy Brando Hutabarat, mengatakan angka tersebut juga disumbang dari peningkatan harga pangan atau volatile food.
Ia menerangkan, inflasi pangan saat ini berada di level 6,44%. Angka tersebut melonjak dari posisi sebelumnya di level 3,36%. Penanganan inflasi ini yang mendorong keterlibatan BI di sektor pangan.
"Jadi kami akan perhatian ke situ. Karena angka ini bukan akan sedar angka statistik, tetapi ini adalah menyangkut-paut adalah catatan masalah perut. Kalau misalnya inflasi makanan itu meningkat, maka harga bahan makanan meningkat, maka ini bermasalah dengan perut," ungkap Rudy dalam acara Ketahanan Pangan Untuk Indonesia Emas di Kempinski, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan, komoditas pangan menjadi salah satu penyumbang inflasi inti di bulan Mei 2026. Inflasi pangan tertinggi berasal dari cabai merah yang naik 0,8% minyak goreng 0,04%, bawah merah 0,04%, bahan bakar rumah tangga naik 0,03%, hingga tomat 0,03%.
Rudy menjelaskan, peningkatan inflasi ini terjadi karena menurunnya jumlah produksi di tingkat petani. Penurunan produksi ini terjadi akibat banyak hal, seperti cuaca ekstrem.
"Kalau dia meningkat, Bank Indonesia tidak bisa meresponnya dengan kenaikan suku bunga, untuk menurunkan itu. Karena masalahnya di produksi, bukan di demand side yang itu adalah peranan Bank Indonesia. Oleh karena itu, kami di Bank Indonesia berperan serta, berperan aktif malah untuk menurunkan hal-hal seperti ini," terangnya.
Rudy menambahkan, BI juga menggelar operasi pasar di daerah dengan inflasi pangan tertinggi, seperti Sumatera dan Jawa. Di Sumatera misalnya, operasi pasar yang dilakukan BI mencapai 2.436 kali, sedangkan di Jawa BI telah menggelar operasi pasar sebanyak 1.911 kali.
"Sumber kenaikan volatile food itu ada di Sumatera dan di Jawa. Jadi kenaikan harga cabai itu ada di Sumatera dan Jawa, maka kami gas pol di Sumatera dan Jawa," pungkasnya.
Simak juga Video: Cek Harga Pangan di Pasar Palmerah, Zulhas: Cabai Turun Jauh
(acd/acd)