Destry Damayanti telah resmi ditetapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) baru menggantikan Perry Warjiyo dalam rapat Paripurna DPR RI pada Selasa (1/9). Hari ini, Destry direncanakan resmi dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Mahkamah Agung (AS).
Ia mengatakan usai resmi menduduki pucuk pimpinan di Bank Indonesia, langkah pertama yang akan dilakukannya adalah mengumpulkan Anggota Dewan Gubernur (ADG) BI saat ini untuk membagi fokus pembidangan tugas.
"Kita kan harus duduk bersama dulu, semua ADG lengkap kita. Kita pembagian bidang dulu nih, karena kalau di Bank Indonesia kan masing-masing ADG punya bidang-bidang yang akan dibawahi," kata Destry usai rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Destry menjelaskan penetapan struktur pembidangan ini penting agar pelaksanaan tugas dan fungsi pengawasan di BI dapat langsung berjalan efektif. Meski tentu dalam pelaksanaannya pembagian fokus pembidangan tugas ini dapat berganti sesuai kebutuhan dan kondisi yang ada.
"Itu sifatnya nggak statis. Karena nanti kita bisa akan tukar, berapa tahun sekali mungkin kita tukar. Jadi misalnya pembidangan tuh kayak 'oh siapa yang pegang kebijakan ekonomi moneter, siapa yang makroprudensial, siapa yang pendalaman pasar keuangan', dan seterusnya," jelasnya.
"Nah itu yang pasti kita akan lakukan pertama supaya aktivitas kerja dan tanggung jawab juga langsung jalan dan lebih clear. Itu sih, yang pertama itu," tegas Destry lagi.
Di luar itu, Destry memastikan fokus utama Bank Indonesia di bawah kepemimpinannya nanti adalah tetap menjaga stabilitas moneter. Hal ini menjadi penting di tengah kondisi global yang serba tidak pasti.
"Kalau kita lihat, global ketidakpastian masih tinggi. Jadi artinya stabilitas itu tetap menjadi prioritas kita. Karena kalau ekonomi kita stabil, kita juga bisa terus menjaga nilai tukar stabil, inflasi stabil," ujar Destry.
Bersama dengan itu, pihaknya akan terus mendorong sinergitas dengan pemerintah baik pusat maupun daerah melalui komunikasi dan koordinasi lintas sektor dengan berbagai Kementerian/Lembaga.
"Saya kan temanya 'Sinergi Merah Putih' ya untuk kesejahteraan rakyat. Jadi memang kita akan mengoptimalkan sinergi yang bisa kita lakukan, tapi tentunya tanpa juga mengabaikan mandat dan kewenangan dari masing-masing lembaga yang melakukan sinergi itu," katanya.
Dalam hal ini, penguatan sinergi dengan pemerintah juga dimaksudkan untuk membantu BI dalam melaksanakan tugas menjaga stabilitas nilai rupiah, terutama dalam aspek kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa yang diukur dalam tingkat inflasi nasional.
Destry mengatakan akan melakukan berbagai langkah 'tambahan' untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Semisal berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga hingga pemerintah daerah terkait masalah inflasi yang kerap kali didorong dari sisi pasokan (supply-side) produk dan jasa yang beredar di tengah masyarakat.
"Kaitannya dengan misalnya kita ada mengarah sekarang ini kayak volatile food inflation. Inflasi kan salah satu juga target di kami untuk menjaga, dijaga stabilitasnya. Tapi kita tahu ada sumber inflasi yang sifatnya lebih supply-side. Nah tentunya kalau supply-side ini kan Bank Indonesia nggak bisa sendiri, jadi Bank Indonesia mengajak tentu lembaga terkait termasuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah," paparnya.
(igo/fdl)









































