Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 tembus US$ 454,8 miliar atau sekitar Rp 8.004 triliun (kurs Rp 17.600). Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ULN 4,9 % secara tahunan.
Perkembangan ini terjadi terutama karena dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik di tengah penurunan ULN swasta. Namun, ULN masih stabil tak banyak berubah dibandingkan dengan posisi pada Juni 2026 sebesar US$ 454,5 miliar.
ULN dari sisi pemerintah pada Juli 2026 tercatat US$ 218,4 miliar atau tumbuh sebesar 3,2% secara tahunan. Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap terjaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal," tulis Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 22,0% dari total ULN pemerintah. Lalu, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 20,7%. Kemudian, untuk Jasa Pendidikan 16,2%, sektor Konstruksi sebesar 11,5%, serta sektor Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,5%.
"Posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali mengingat hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang," lanjut Ramdan Denny.
Di sisi lain, ULN swasta menurun. Posisi ULN swasta pada Juli 2026 tercatat sebesar US$ 194,5 miliar saja atau mengalami kontraksi sebesar 1,2% secara tahunan. Perkembangan tersebut didorong oleh ULN kelompok peminjam bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) dan lembaga keuangan (financial corporations) yang masing-masing mengalami kontraksi.
Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian dengan pangsa mencapai 80,6% dari total ULN swasta. ULN swasta pun tetap didominasi oleh utang jangka panjang.
Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,7% pada Juli 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang.
Lihat juga Video: Utang Luar Negeri Indonesia Tambah Banyak, Kini Sentuh Rp 7.488 Triliun!










































