×
Ad

Bos BI Terus Pantau Pergerakan Modal Asing Usai Pengumuman MSCI

Andi Hidayat - detikFinance
Rabu, 21 Okt 2026 17:23 WIB
Foto: Rifkianto Nugroho/detikFoto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat ada peningkatan outflow atau arus keluar modal asing menyusul pengumuman MSCI terkait opsi penurunan status pasar modal RI dari Emerging Market ke Standalone Market beberapa waktu lalu. Imbas pengumuman ini, rupiah juga sempat tercatat melemah selama dua hari.

Gubernur BI, Destry Damayanti, mengakui isu MSCI juga menjadi perhatian pihaknya. Berdasarkan pemantauan BI, tercatat outflow meski relatif rendah dan terbatas mengingat kondisi pasar regional dan global juga tidak terlalu baik.

"Kami masih melihat bahwa tekanannya masih relatif dalam batas yang cukup normal. Karena pada saat yang bersamaan juga regional kondisinya lagi gak terlalu baik ya. Tapi kami terus mewaspadai apa yang terjadi juga di capital market kita. Dan tentunya kami memonitor outflow yang terjadi sepanjang pergerakan yang terjadi setelah MSCI," jelasnya dalam konferensi pers hasil RDG di kantor BI, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Saat ini, ujar Destry, BI tengah berupaya mendorong aliran modal masuk atau inflow kembali melalui kebijakan yang lebih terarah. Ia menegaskan, stabilitas tetap menjadi prioritas utamanya terkait nilai tukar rupiah.

"Jadi kita tahu outflow memang terjadi. Artinya apa? Kalau outflow terjadi kan kita harus berusaha untuk menge-track lagi inflownya. Outflow itu masuk menjadi inflow gitu. Nah jadi kami kemarin juga melihat beberapa concern yang pertama tentu stabilitas itu tetap menjadi prioritas kami," tegasnya.

Destry menambahkan, pelemahan rupiah terjadi imbas sentimen global, termasuk sentimen investor asing di pasar modal. Sentimen global tersebut adalah eskalasi geopolitik di Timur Tengah, ketatnya arah kebijakan moneter AS, dan sentimen investor asing di pasar saham.

Berdasarkan catatan BI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah dalam beberapa waktu terakhir. Mata uang Garuda berada di level Rp 17.985 pada 20 Oktober 2026, melemah 0,61% dibandingkan posisi akhir September lalu.

"Nilai tukar rupiah pada 20 Oktober 2026 tercatat berada di level Rp 17.985 per dolar AS atau melemah 0,61% point-to-point, 0,61% point-to-point dibandingkan dengan akhir September 2026. Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter di Amerika Serikat yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham," jelasnya.




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork