Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 26 Feb 2019 07:19 WIB

7 Rahasia Sukses Keuangan Anti Krisis ala Tionghoa (1)

Ruly Rahadianto - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Ilustrasi Foto: Rengga Sancaya Ilustrasi Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Berapa penghasilan Anda per hari?

Apa yang anda pikirkan saat ada yang tiba-tiba menanyakan penghasilan anda? Apalagi kalau yang bertanya adalah orang yang baru saja anda kenal lima menit yang lalu?

Begitulah perasaan saya saat ngobrol bareng Zhao. Saya kaget dan bingung harus jawab apa. Zhao adalah warga negara China dan belum pernah ke Indonesia sebelumnya.

Saya jadi grogi sendiri karena kaget budaya. Sementara dia lurus-lurus saja menunggu jawaban saya.

Mungkin banyak orang Indonesia merasa tidak nyaman membicarakan keuangan pribadinya. Tapi tidak demikian di China. Pembicaraan mengenai uang dan penghasilan adalah hal yang biasa saja.

Mungkin bisa disamakan seperti ringannya obrolan kita tentang skandal selebrita tanah air. Budaya keuangan berbeda antara satu negara dengan negara lain.

Orang Amerika Serikat (AS) mungkin lebih sering bicara pendapatan tahunan, return dan kekayaan bersih. Orang Tionghoa lebih sering menggunakan istilah pendapatan harian, risiko, dan tabungan.

Sementara teman-teman saya lebih sering bicara cicilan, pokok dan denda. Hahaha...

Budaya uang Tionghoa nampaknya terbukti tahan krisis ekonomi. Setidaknya di AS. Karena menurut Forbes, orang-orang Asia Amerika di AS terutama etnis Tionghoa hanya mengalami guncangan ekonomi minimal saat krisis 2008.

Menurut banyak ahli Sinologi, filosofi Konfusius memberi banyak pengaruh dalam budaya keuangan China selama ribuan tahun. Lalu, seperti apa kebiasaan sukses keuangan ala orang China yang anti badai krisis? Inilah 7 di antaranya yang bisa kita pelajari:

1. Pemasukan harus lebih besar dari pengeluaran
Walau sederhana, ini adalah prinsip utama dalam keuangan Tionghoa. Prinsip ini mengajarkan kita untuk menjaga biaya hidup supaya selalu lebih kecil daripada pendapatan. Walau sepele, banyak orang merasa kesulitan menjalankannya. Bahkan menghitung berapa pemasukan dan pengeluarannya setiap bulan saja merasa tersiksa.

Apalagi jaman modern ini begitu banyak godaan. Kadang kita khilaf meningkatkan gaya. Walaupun sebenarnya pendapatan kita belum mampu tapi dipaksakan karena takut malu dianggap tidak punya. Hasilnya pengeluaran kita jauh lebih besar dari pemasukan dan harus ditutup dengan utang.

Mungkin kita perlu ingat pelajaran fisika dulu. Gaya selalu berbanding lurus dengan tekanan. Jika hidup kita penuh tekanan mungkin karena terlalu banyak gaya.

2. Menabung sebanyak-banyaknya
Anda mungkin saat ini sudah berhasil menyisihkan pemasukan anda untuk tabungan dan investasi. Jika 10% saja dari pemasukan bisa anda sisihkan maka anda sudah berada di atas rata-rata rumah tangga Indonesia.

Wajar saja jika OJK selalu mengkampanyekan menabung dan investasi karena rata-rata tabungan rumah tangga Indonesia hanya 8,5% dari pendapatan.

Beda Indonesia tentu beda China. Data 2016 menyebutkan rumah tangga di China menyisihkan rata-rata 46% dari pendapatannya untuk tabungan. Bahkan untuk kasus yang ekstrim bisa 60% dari pendapatan.

Tunggu dulu. Ini sederhana atau irit ya?

Pemerintah China pun dibuat pusing oleh kebiasaan ekstrim warganya untuk menabung ini. Kalau sampai mayoritas uang ditabung saja, tentu produksi dalam negeri jadi tidak laku.

Apalagi saat ini ekspor China menurun karena drama perang dagang internasional. Maka pemerintah China saat ini sedang gencar mengkampanyekan pada rakyatnya untuk belanja atau investasi.

Memang kita tidak perlu sampai menyisihkan 60% pendapatan. Tetapi pelajaran yang bisa dipetik adalah siapapun bisa menyisihkan berapapun asal mau dan konsisten.


Bagaimana supaya bisa menabung dan berinvestasi setiap bulan? Belajar deh di workshop Perencanaan Keuangan dan Investasi yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.

Apalagi rahasia sukses keuangan ala Tionghoa? Kita simak sambungannya di artikel berikutnya.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com