Market Lagi Sakit, Jangan Berharap Sembuh Cepat Dulu (2)

Aidil Akbar Madjid – Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Senin, 06 Apr 2020 07:31 WIB
Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/11/2016). IHSG ditutup meroket hingga 1,57%.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Dalam artikel sebelumnya dibahas bahwa dalam kondisi saat ini di mana bursa saham sedang turun drastis sementara dolar Amerika Serikat (AS) naik tinggi, banyak orang yang bingung apakah investasi mereka yang sudah merugi 10%, 20%, 30% atau lebih harus dilepas, atau apa yang harus mereka lakukan?

Sementara ada sebagian orang yang bersiap untuk masuk berinvestasi, apakah ini waktunya yang tepat untuk masuk? Itu sebabnya banyak orang bertanya kepada saya, apa yang harus saya lakukan sekarang?

Jadi apa yang harus dilakukan? Menurut opini saya yang harus dilakukan adalah "Sit on Your Cash" alias berdiam diri dengan dana cash/tunai anda. Sampai kapan?

Sampai momentumnya menjadi jelas. Jelas seperti apa yang harus kita perhatikan?

Pertama jelas dalam arti kata kejelasan, keseriusan dan ketegasan langkah pemerintah dalam menangani wabah Covid-19 ini terutama dalam hal opsi Lockdown atau Karantina Wilayah. Mengapa demikian?

Karena menurut pengalaman bahwa opsi ini telah dilakukan oleh banyak negara lain dan hasilnya bisa dikatakan cukup berhasil, sehingga desakan masyarakat kepada pemerintah Indonesia untuk melakukan aksi ini semakin bertambah.

Kedua kejelasan apakah langkah pemerintah tersebut berhasil memperlambat atau menghentikan penyebaran virus tersebut atau relative terlambat dan penyebaran virus tersebut telah ke mana-mana.

Selama jumlah orang yang terkena virus baik status positif, ODP dan PHP masih bertambah atau belum berhenti maka strategi tersebut dapat dikatakan belum berhasil. Dan hal ini dapat mempengaruhi dan memperkeruh pasar, terutama investor asing yang sampai saat ini posisinya masih menjual seluruh portofolio mereka di bursa di Indonesia.

Apabila strategi ini berhasil menghentikan, maka akan tampak harapan bahwa Indonesia bisa mengatasi penyebaran virus ini, sehingga rasa percaya investor bisa dikembalikan lagi.

Ketiga, mengembalikan tatanan ekonomi yang sudah porak poranda karena virus ini. Apabila kondisi wabah ini masih berlangsung beberapa minggu atau bulan ke depan, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka akan banyak bisnis yang belum bisa berfungsi normal.

Ketika bisnis tidak bisa berfungsi normal maka perusahaan tidak bisa membayar gaji karyawan maupun membayar biaya operasional termasuk cicilan utang perusahaan. Oleh sebab itu, semakin lama proses pengendalian wabah ini maka akan semakin terpuruk bisnis di Indonesia.

Hal ini bisa berakibat dalam kurun waktu 3 bulan ke depan akan mulai banyak orang-orang dan bisnis yang mulai gagal bayar dalam membayar cicilan mereka, atau dikenal dengan kredit macet.

Seperti yang kita ketahui bersama, kredit macet dalam jumlah besar dapat mempengaruhi kinerja dari bank dan industri perbankan. Oleh sebab itu apabila anda berniat untuk berinvestasi jangka menengah, sebaiknya mulai menghindari saham-saham perbankan.

Ingat tadi bahwa kondisi ekonomi yang tidak menentu akan menyebabkan banyak perusahaan tutup atau merumahkan karyawannya. Maka bersiaplah gelombang PHK massal terjadi.

Apabila ini terjadi maka bersiaplah daya beli masyarakast Indonesia yang akan menurun. Daya beli masyarakat yang menurun tentu akan berdampak pada jenis usaha lain. Tapi berkaca pada pengalaman tahun 1997 dan 2008, biasanya daya beli masyarakat yang turun hanya bersifat sementara 3-6 bulan saja.

Setelah itu masyarakat Indonesia akan beradaptasi untuk mulai menata kehidupan mereka kembali. Itu sebabnya dibutuhkan rencana kerja dan stimulus dari pemerintah untuk bisa mengembalikan tatanan ekonomi tanpa memberatkan masyarakat (dengan kata lain, tidak ada dulu pajak-pajak yang ditarik dari masyarakat).


Nah, mulailah melakukan pengetatan ikat pinggang. Bersiaplah dari sekarang. Perkuat dana darurat anda. Atur ulang pengeluaran bulanan anda yang penting-penting saja.

Buat daftar pengeluaran bulanan yang baik dan benar secara rinci. Coba pergunakan aplikasi untuk membuat, mengatur dan mencatat pengeluaran bulanan anda.

Gunakan kalkulator perencana keuangan gratis untuk membantu anda membuat perencanaan keuangan. Aplikasinya sendiri bisa diunduh di sini.

Selain mencatat anda juga penting untuk berinvestasi dan berasuransi. Permasalahan dengan investasi masih banyak orang yang awam.

Sementara untuk berasuransi banyak masyarakat yang enggan karena takut dikejar-kejar oleh agen, padahal mereka baru hanya mau tahu berapa besar sih premi yang mereka harus bayarkan.

Nah, untuk hal ini ada solusinya, anda bisa cek premi asuransi tanpa takut dikejar-kejar agen melalui aplikasi yang bisa diunduh di sini.

Selain itu anda juga bisa belajar dengan mengikuti kelas dan workshop tentang keuangan, infonya bisa anda dapatkan dari aplikasi tersebut di atas atau anda bisa cek di sini.

Semoga skenario di atas tersebut tidak terjadi, corona bisa cepat teratasi, bursa saham bisa kembali normal, ekonomi membaik dan semua orang bisa kembali bekerja seperti dahulu lagi. Aamiin.

Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel.



Simak Video "Tips Merdeka Finansial dengan Gaya Hidup Minimalis"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)