Ini Pilihan Investasi Jelang Resesi, Mana yang Paling Aman?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 26 Sep 2020 13:48 WIB
Ilustrasi THR
Ilustrasi/Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Pemerintah sudah menyebut jika Indonesia akan memasuki resesi pada kuartal III. Hal ini karena pada kuartal II ekonomi Indonesia sudah minus 5,23%.

Resesi memang terjadi jika ekonomi suatu negara mengalami minus selama dua kuartal berturut-turut. Kalangan ekonom menyebut resesi ekonomi akibat dampak wabah atau pandemi adalah hal yang wajar.

Ini karena adanya pembatasan kegiatan ekonomi atau aktivitas masyarakat demi menekan penyebaran virus. Seperti lockdown dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mengganggu produksi barang dan jasa.

Kondisi resesi ini juga disebut akan sangat berdampak ke pendapatan dan aktivitas masyarakat. Namun walaupun Indonesia masuk resesi, ini bukanlah hal yang harus dikhawatirkan berlebihan.

Masyarakat juga harus mulai memiliki survival mode dan memikirkan investasi yang cocok di masa sekarang ini. Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group (AAG) Andy Nugroho menjelaskan, menjelang resesi dibutuhkan instrumen investasi yang berisiko rendah. Hal ini agar mudah dicairkan ke dalam bentuk uang tunai.

"Contohnya logam mulia, deposito, obligasi atau sukuk ritel, reksa dana berbasis pasar uang atau berbasis fixed income," kata dia saat dihubungi detikcom, Sabtu (26/9/2020).

Dia mengungkapkan, hal ini menjadi pilihan supaya jika ada kemungkinan terburuk di pasar, maka investasi yang dipilih relatif minim penurunan nilai.

"Lalu kalau kita butuh dana sewaktu-waktu ya bisa mudah untuk dicairkan," jelas dia.

Dia mengatakan, pengalihan pos pengeluaran tersebut juga sebagai langkah pengelolaan dana dengan lebih baik, karena dalam kondisi saat ini ada beberapa hal yang menjadi kebutuhan utama seperti masker kain, suplemen kesehatan, hand sanitizer, kuota internet tambahan bagi yang work from home maupun school from home.

"Selain itu juga masih ada beberapa pengeluaran rutin lainnya yang tidak boleh dilupakan seperti cicilan kredit," ujarnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2