Jurus Jitu buat Milenial Biar Mapan Finansial Sebelum Usia 30

Inkana Putri - detikFinance
Jumat, 04 Jun 2021 17:32 WIB
Mandiri Virtual Talk Eps. 3 membahas perencanaan keuangan untuk milenial.
Foto: Inkana Putri/detikcom
Jakarta -

Bisa mapan secara finansial di usia sebelum 30 tahun tentu jadi impian terbesar banyak orang, khususnya milenial. Meskipun sering kali terkesan tidak mungkin, namun impian ini dapat terwujud jika langkah dan strategi yang dilakukan tepat.

Seperti yang dilakukan Entrepreneur & Barista, Muhammad Aga yang kini telah mapan dan sukses sebelum memasuki usia 30 tahun. Tak hanya sukses mendirikan kedai kopi Harapan Djaya Coffee Roasters dan Smith Indonesia, Aga kini juga telah jadi role model barista di Indonesia.

Meski demikian, Aga mengaku awalnya tak pernah terpikir untuk berbisnis di industri kopi. Bahkan, ia bercerita dulunya hanya bekerja sebagai petugas pencuci piring di kedai kopi.

"Sebenarnya umur 20-an gue nggak kepikiran kayak bikin bisnis. Jadi, 10 tahun lalu itu sebenarnya sudah mulai kerja di kopi. Cuma itu tuh nggak ada planning untuk berkarier di industri kopi karena dulu pekerjaan kita gak seseksi sekarang," ujarnya dalam acara Mandiri Virtual Talk Eps. 3.

"Dulu di tahun 2009, itu pertama kali gue masuk di kopi dan waktu itu kerja biasa. Bahkan, pas pertama kali masuk gue jadi dishwasher dulu karena untuk kerja di sebuah kedai kopi jaman dulu susah, kita gak punya experience di bidang itu," imbuhnya.

Seiring berjalannya waktu, Aga pun akhirnya dipindahkan untuk menjadi seorang helper bar atau barista. Sejak saat itu, ia mulai tertarik untuk lebih mendalami kopi dan mencoba meracik aneka kopi dibantu oleh para barista senior hingga akhirnya bisa mendirikan kedai kopinya sendiri.

Awal mula Aga untuk bisa mapan dan sukses seperti saat ini memang tak mudah. Di acara Mandiri Virtual Talk Eps. 4, ia mengungkapkan untuk bisa mapan, milenial harus memiliki banyak hal dan kemauan tinggi. Salah satunya adalah memiliki skill dan mengasahnya untuk menjadi sebuah penghasilan.

"Buat gue apalagi milenial, kita harus punya satu skill yang kita kuasai. Karena dari situ kita bisa menggali potensi yang kita punya. Walaupun banyak skill yang mau dipelajari, tapi in the end kita harus cari nyamannya di mana dan mau kita jalanin terus," katanya.

Lebih lanjut Aga menyebut milenial juga harus dapat memanfaatkan kesempatan yang ada. Menurutnya, kesempatan yang dimanfaatkan dengan baik dan benar dapat berpotensi menghasilkan sebuah tujuan atau income.

"Kedua, harus pintar melihat kesempatan karena itu salah satu rezeki. Jadi, once lo dapet rezeki itu, lo harus bisa mengeksekusi opportunity itu jadi achievement atau goal," ungkapnya.

Selanjutnya, Aga mengatakan networking juga menjadi salah satu faktor dirinya bisa sukses seperti saat ini. Pasalnya, saat menjadi barista, dirinya terus memperluas networking kepada customer hingga akhirnya diajak untuk menjadi head bar.

"Gue sadar kalau ternyata networking itu nomor satu, selain itu kita harus nyiapin preparation-nya. Harus ada strategi, business plan dan lain-lain. Masa muda adalah masa yang paling bikin kita sering bergaul atau main. Lo bangun aja networking, dari networking jadi relasi dan nanti bisa jadi sesuatu," paparnya.

"Ada salah satu customer yang memang reguler dateng ke situ dan ajak gue untuk pindah (jadi head bar) karena dia baru bikin coffee shop. Akhirnya ikut dan gue merasa industri kopi itu ada opportunity. Di situ gue dapet banyak insight untuk bangun coffee shop, bukan cuma teknikal tapi dari back office, dan gimana kita jagain staff," imbuhnya.

Di samping tiga hal tersebut, Aga menambahkan kemapanan saat ini juga tak terlepas dari investasi. Soal investasi, ia menyebut dirinya masih baru menggeluti bisnis properti kedai kopi dan menabung. Ke depan, ia mengatakan akan mencoba investasi lain seperti reksadana.

"Lebih ke aset sih properti misalkan. Tapi kalau investasi dalam bentuk liquid nabung dan deposito aja sih. Belum ke arah yang saham karena gue nggak mau jadi investor tanpa paham soal gimana cara investasi dengan baik," katanya.

Senada dengan Aga, Regional Sales Head Bank Mandiri Ratu Meika menyebut memiliki skill tertentu memang jadi hal penting bagi milenial. Terlebih ini bisa jadi modal untuk bisa mendapatkan passive income agar bisa mapan di usia muda.

"Kalau melihat Aga mungkin expert di bisnis kopi. Menurut aku setiap milenial harus punya satu expert dulu yang dia pegang dan fokus di situ," katanya.

"Dari expertise, kita cari apa sih yang bisa bikin income kita masuk sehingga kita punya tujuan buat beli rumah, mobil, gadget. Dan kita mesti pikirin gimana income jadi passive income, yaitu melalui bank yang akan dibantu (dicarikan solusi) melalui bankers," tambahnya.

Selain itu, Ratu menjelaskan milenial juga perlu memiliki investasi dan investasi dapat dimulai dari disiplin menabung. Menurut Ratu, menabung merupakan hal yang wajib dilakukan agar dapat mapan finansial di masa depan.

"Coba dulu untuk bikin account di bank dan coba untuk nabung secara disiplin. Mindset harus diubah bahwa nabung itu harus dan wajib, bukan cuma kalau lagi ada aja. Mesti punya mindset bahwa berapapun yang kita punya itu kita pasti bisa untuk disimpan," katanya.

Untuk milenial yang sulit disiplin nabung, Ratu mengatakan saat ini telah banyak produk perbankan yang menghadirkan sistem autodebet per bulannya. Dengan demikian, milenial bisa lebih mudah disiplin untuk berinvestasi.

"Ada juga produk yang tiap bulan kita bisa investasi secara berkala untuk reksa dana, dipotong misalnya tiap tanggal 30 setiap bulan. Kita (Bank Mandiri) punya produk itu. Ini jadi akan memaksa kita untuk investasi tiap bulan," paparnya.

Tak hanya investasi, Ratu mengatakan milenial juga perlu memperhatikan dana darurat dan asuransi kesehatan. Untuk dana darurat, ia sarankan milenial sebaiknya punya simpanan dana sebesar 3 kali pengeluaran bulanan di tempat aman seperti deposito, tabungan dan pasar uang. Sementara itu asuransi kesehatan dalam hal ini akan bermanfaat sebagai pelindung aset-aset finansial.

"Aku ingetin mungkin milenial harus punya asuransi kesehatan. Karena kesehatan itu sesuatu yang kitanya masih hidup. Asuransi kesehatan itu ibaratnya jadi payung, jangan sampai kalau kita sakit itu kita pakai uang yang kita tabung susah-susah. Bank Mandiri ada juga karena kita one stop solution, kita punya anak perusahaan namanya AXA Mandiri itu ada insurance juga," pungkasnya.

(fhs/hns)