Tips Bertahan di Masa Pandemi Tanpa Utang

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 23 Jun 2021 07:30 WIB
Beautiful woman with money jar. Bankruptcy concept.
Ilustrasi/Foto: Getty Images/D-Keine
Jakarta -

Pandemi COVID-19 menjadi kondisi yang tidak hanya mempengaruhi sektor kesehatan tetapi juga sektor ekonomi. Terpukulnya ekonomi juga bisa berdampak pada nasib karyawannya.

Dengan banyak ketidakpastian di tengah pandemi, keuangan harus diatur dengan memprioritaskan diri sendiri dan keluarga. Perencana keuangan senior Aidil Akbar Madjid mengatakan dalam situasi saat ini, memenuhi kebutuhan pokok menjadi hal utama, tapi jangan sampai menambah utang baru.

"Jangan pernah punya utang baru, jangan pernah kepikiran untuk beli motor baru misalnya," katanya, kepada detikcom Selasa (22/6/2021).

Menurutnya dengan kondisi pandemi yang diutamakan adalah bertahan hidup. Mulailah untuk menabung dan berhemat dengan tidak banyak membelanjakan uang. Aidil mencontohkan dengan lebih baik masak di rumah dibandingkan untuk membeli makan di luar.

Aidil lebih lanjut menerangkan, memasak di rumah akan lebih murah 50% dibandingkan beli di luar.

"Setiap ada uang simpan, nggak boleh belanja sama sekali, makan di rumah nggak usah makan di luar. Kalian selamatkan dulu diri kalian dulu," terangnya.

Selain berhemat, direkomendasikan untuk mencari tambahan penghasilan atau pekerjaan sampingan. Dia mencontohkan untuk memilih pekerjaan yang masih terus berjalan, yakni driver online.

Selain itu, bisa dengan mencari pekerjaan di luar pekerjaan utama seperti jaga toko, kerja di restoran. Bisa juga mulai usaha kecil-kecilan dengan jualan online

"Atau kerja yang di luar jam kantor, misalnya kerja di toko di restoran, nggak masalah, kerjanya sore atau sabtu minggu, itu setiap tempat pasti masih butuh karyawan," ungkapnya.

Lalu jangan tergiur untuk berbelanja hal-hal yang tidak penting, terutama karena tergiur promo-promo. Kemudian, jika memiliki cicilan atau harus membayar sewa rumah bisa dengan negosiasi kepada pemilik rumah.

Step untuk negosiasi pertama, coba negosiasi harganya agar tidak naik. Selanjutnya negosiasi jadwal pembayaran, agar lebih ringan. Coba untuk meminta pembayaran per bulan atau pertiga bulan.

"Tetapi kita harus disiplin kalau jatuh tempo tiga bulan ya harus bayar tiga bulan," papar Aidil.

Jika menemukan rumah kontrakan dengan harga sewa yang lebih murah, direkomendasikan untuk pindah. Menurut Aidil jika selisihnya Rp 300 ribu- Rp 500 ribu, uang tersebut bisa dialokasikan untuk keperluan kebutuhan pokok.

"Tapi kalau kondisi sekarang banyak tempat kosong nggak ada salahnya lihat liat tempat lain, kalau ada tempat sewa yang lebih murah kenapa nggak pindah. Kalau selisih Rp 300 ribu-Rp 500 ribu bisa buat makan sebulan, kalau misalnya bayar kontrakan misalnya, 2 juta, terus ada tempat lain yang kecil dengan harga 1,5 juta lebih baik pindah," katanya.

(eds/eds)