Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 31 Jul 2018 10:35 WIB

Rupiah Masih Loyo, Jangan Beli Saham-saham Ini

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pembalikan modal akibat perang dagang antara Amerika dan China serta kenaikan suku bunga acuan Amerika dari pasar keuangan masih mewarnai sejumlah negara-negara berkembang termasuk Indonesia, India, Filipina dan negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Dampaknya, mata uang di negara-negara itu melemah.

Bank Indonesia sebagai pengelola moneter telah berupaya menjaga volatilitas nilai tukar dengan melakukan intervensi di pasar valas maupun surat utang negara (SUN) serta menaikkan suku bunga acuan BI 7-day repo rate sebesar 100 basis point (bps) sejak Mei 2018 ke level 5,25%.

Meski intervensi telah dilakukan, pada penutupan perdagangan Jumat lalu nilai tukar rupiah masih ditutup melemah sekitar 6,0% terhadap dolar AS, sedikit lebih baik dibanding rupee yang terdepresiasi hingga 7,1% terhadap dolar AS. Demi menjaga stabilitas nilai tukar, BI siap mengambil langkah menaikkan BI 7-day repo rate ke depannya.

Pelemahan nilai tukar yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir ini, diperkirakan masih akan terjadi akibat tekanan global, dan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan yang bahan bakunya masih mengandalkan impor dan punya utang dalam dolar.

Beberapa di antaranya PT Indofood Sukses Makmur yang bahan baku anak usahanya seperti Bogasari dan Indofood CBP sukses Makmur masih mengandalkan impor gandum, ditambah lagi Indofood masih memiliki utang valas sebesar US$ 587 juta dan utang Indofood CBP sebesar US$ 57 juta.

Menurut Analis Bahana Sekuritas Michael Setjoadi, setiap pelemahan 1% rupiah, menggerus laba bersih Indofood CBP sebesar 1,7% dan 3.6% untuk Indofood Sukses Makmur.

"Pada awal tahun, Bahana memperkirakan laba bersih Indofood Sukses Makmur (INDF) akan naik sekitar 5,5% atau mencapai Rp 4,4 triliun dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp 4,17 triliun, ditopang oleh performa Indofood CBP yang diperkirakan akan tumbuh 10,1%," katanya dalam keterangan tertulis Selasa (31/7/2018).

PT Mitra Adiperkasa juga akan mengalami tekanan karena sekitar 50% dari total barang yang dijual perseroan adalah impor dari Amerika, Eropa dan negara lainnya, sehingga sekitar 15-20% dari total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang/jasa atau yang lebih dikenal dengan cost of goods sold (COGS) dalam denominasi US dolar.

Riset Bahana Sekuritas memperlihatkan setiap 1% pelemahan dolar AS, akan menggerus laba bersih perseroan berkode saham MAPI sebesar 2,8%. Perseroan baru akan menaikkan harga barang bila dolar AS sudah menyentuh level sekitar Rp 15.000.

Pada awal tahun Bahana memperkirakan laba bersih MAPI akan naik lebih 100% atau mencapai Rp 789 miliar pada akhir 2018, dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 335 miliar.


Produsen ayam PT Japfa Comfeed Indonesia juga masih mengandalkan import untuk pakan ayam meski Japfa diuntungkan dengan perang dagang Amerika dan China yang membuat harga keledai turun. Berdasarkan riset Bahana sekitar 60% dari total COGS perseroan dalam denominasi dolar.

Perusahaan berkode saham JAPFA ini juga masih memiliki utang dalam bentuk surat utang sebesar US$ 250 juta meski sekitar 62,6% dari total utang tersebut telah menggunakan hedging di kisaran Rp 13.300-16.600. Bahana memperkirakan setiap pelemahan 1% rupiah terhadap dolar AS, bakal menggerus laba bersih perseroan sebesar 6,5%.

Pada awal tahun Bahana Sekuritas memperkirakan laba bersih Japfa akan naik sekitar 87% atau mencapai Rp 1,87 triliun pada akhir 2018, dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp 998 miliar.

(ang/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com